BANGSAHEBAT.COM - Kembang api selalu terlihat indah dari kejauhan.
Ia meledak di langit, bersinar beberapa detik, lalu hilang tanpa jejak.
Bagi sebagian orang, itulah makna tahun baru: meriah, singkat, lalu dilupakan.
Namun bagi sebagian yang lain, tahun baru bahkan tidak sempat datang.
Bukan karena mereka tidak tahu tanggal,
tetapi karena hidup tidak memberi mereka pilihan untuk merayakannya.
Tahun Baru Tidak Selalu Sama untuk Semua Orang
Kita sering bicara tentang tahun baru seolah ia milik bersama.
Seolah semua orang berdiri di garis start yang sama.
Padahal kenyataannya, tidak semua orang memulai dari titik yang setara.
Ada yang masuk tahun baru dengan rencana,
ada yang masuk tahun baru hanya dengan satu pertanyaan: besok makan apa?
Bagi Sebagian Orang, Tahun Baru Hanya Pergantian Tanggal
Tidak ada resolusi.
Tidak ada libur panjang.
Tidak ada ruang untuk refleksi.
Yang ada hanyalah rutinitas yang harus tetap berjalan,
karena berhenti berarti kehilangan penghasilan,
dan kehilangan penghasilan berarti masalah baru.
Bagi mereka, tahun baru hanyalah kalender yang diganti,
bukan hidup yang dimulai ulang.
Narasi Harapan yang Terlalu Meriah
Setiap akhir tahun, harapan diproduksi massal.
Kata “optimis” diulang-ulang,
seolah semua orang punya kemewahan untuk berharap.
Padahal harapan tanpa pilihan sering kali hanya menjadi beban.
Sulit Berharap Jika Hidup Tidak Memberi Ruang
Bagaimana mungkin seseorang diminta bermimpi,
jika setiap hari hidupnya habis untuk bertahan?
Bagaimana mungkin ia bicara soal masa depan,
jika hari ini saja belum aman?
Di titik ini, tahun baru terasa seperti panggung pesta
yang lampunya terlalu terang bagi mereka yang sedang berjuang dalam gelap.
Orang-Orang yang Tidak Masuk dalam Foto Perayaan
Saat kembang api dinyalakan,
ada banyak tangan yang tetap bekerja.
Ada yang menjaga,
ada yang membersihkan,
ada yang melayani,
ada yang mengantar.
Mereka jarang masuk dalam narasi tahun baru.
Padahal tanpa mereka, perayaan tidak mungkin terjadi.
Mereka Ada, Tapi Tidak Diperhitungkan
Mereka bukan tidak bahagia,
mereka hanya tidak punya waktu untuk berpura-pura.
Tahun baru bagi mereka bukan soal harapan besar,
tapi soal bertahan satu hari lagi tanpa runtuh.
Pilihan adalah Kemewahan yang Sering Tidak Disadari
Bisa berhenti sejenak,
bisa menyusun resolusi,
bisa berkata “tahun depan aku ingin begini”
—semua itu adalah tanda bahwa seseorang punya pilihan.
Dan pilihan, sayangnya, tidak dimiliki semua orang.
Ketika Hidup Hanya Soal Bertahan
Bagi mereka yang hidupnya penuh keterbatasan,
tahun baru tidak datang sebagai awal,
melainkan sebagai kelanjutan dari perjuangan yang belum selesai.
Tidak ada waktu untuk mengevaluasi diri,
karena hidup menuntut untuk terus bergerak.
Optimisme yang Tidak Membumi Bisa Melukai
Ketika harapan diucapkan tanpa empati,
ia bisa terdengar seperti ejekan.
Bukan karena harapan itu salah,
tetapi karena ia tidak menyentuh realitas.
Tidak Semua Orang Butuh Motivasi, Sebagian Butuh Pemahaman
Ada orang yang tidak perlu disuruh optimis.
Mereka hanya perlu dipahami.
Dipahami bahwa:
- lelah mereka nyata
- diam mereka beralasan
- ketidakhadiran mereka dalam perayaan bukan pilihan, tapi keadaan
Diam Orang-Orang yang Tak Punya Pilihan
Mereka jarang bicara soal resolusi.
Bukan karena tidak ingin berubah,
tapi karena hidup belum memberi ruang untuk itu.
Diam mereka bukan pasrah,
melainkan bentuk bertahan yang paling jujur.
Di Balik Diam Itu, Ada Daya Tahan
Mereka mungkin tidak merayakan tahun baru,
tetapi mereka merayakan satu hal yang sering dilupakan:
ketahanan hidup.
Dan itu bukan hal kecil.
Refleksi: Tahun Baru untuk Siapa?
Pertanyaan yang jarang diajukan adalah:
tahun baru ini sebenarnya dirayakan oleh siapa?
Apakah oleh semua orang,
atau hanya oleh mereka yang cukup aman untuk berhenti sejenak dan berharap?
Jika tahun baru hanya bisa dirayakan oleh mereka yang punya pilihan,
maka mungkin yang perlu diperbaiki bukan semangatnya,
melainkan ketimpangan yang membuat sebagian orang tertinggal jauh di belakang.
Menghormati Mereka yang Tidak Punya Waktu untuk Merayakan
Mungkin tahun baru tidak selalu perlu dirayakan dengan pesta.
Kadang ia perlu direnungkan dengan lebih rendah hati.
Bahwa di saat kita sibuk menyusun resolusi,
ada orang lain yang sibuk bertahan.
Bahwa di balik gemerlap harapan,
ada wajah-wajah sunyi yang tidak meminta apa-apa,
selain kesempatan hidup yang sedikit lebih adil.
Dan mungkin,
menghormati mereka adalah bentuk perayaan tahun baru yang paling manusiawi.
.png)


Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis
DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com