BANGSAHEBAT.COM - Pada Sebuah Titik di Magelang, Aku Menemukan Bara yang Tak Pernah Padam
Di sebuah desa kecil bernama Plosogede, di Kabupaten Magelang — yang bagi banyak orang mungkin hanya terlihat sebagai peta biasa di Jawa Tengah — tumbuh sebuah jiwa besar yang dengan tenang membaca dunia lewat kata-kata. Nama itu: Rekki Zakkia, lahir pada 30 Desember 1980 di Magelang.
Aku pertama kali mengenal namanya saat membaca sebuah sajak — bukan sekadar puisi biasa, tetapi sebuah kesaksian tentang kemanusiaan, cinta, duka, dan ketegaran yang seolah menanyakan satu pertanyaan besar kepada siapa pun yang bersedia mendengarnya: Apa arti hidup bagi kita yang hidup di zaman penuh kebisingan ini?
Lebih dari Sekadar Penyair: Jejak Pendidikan dan Kepedulian Sosial
Rekki bukan sekadar nama penulis. Dia adalah founder dari Kedai Kopi & Buku dan Taman Baca Kebun Makna, sebuah ruang kultural di Jalan Trayem, Dusun Karang Sanggrahan — ruang yang menjadi titik temu bagi banyak orang dari berbagai latar untuk membaca, berdiskusi, dan merenungkan keseharian dalam konteks yang lebih luas.
Tempat ini bukan hanya warung kopi biasa — ia adalah oase literasi di tengah dominasi layar digital. Dengan lebih dari ribuan judul buku yang tersusun rapi di perpustakaan kecilnya, Kebun Makna mengajak setiap pengunjung untuk berhenti sejenak, membaca, berbicara, dan berpikir. Suasana ini menggambarkan filosofi hidup seorang Rekki: kata adalah cermin jiwa, dan bacaan adalah pintu masuk menuju dunia makna yang lebih dalam.
Sastra Adalah Dinding Tempur yang Paling Sunyi
Perjalanan sastra Rekki dimulai sejak remaja. Ia memilih jalan yang tidak mudah — dunia puisi dan esai sosial bukanlah jalur yang populer seperti kini dunia blogging atau vlog. Bahkan di sekolah menengah pertama (SMP), ia sudah menjadi pembaca berat buku filsafat, sastra klasik, dan puisi, memperluas cakrawala pikirnya jauh dari batas-batas biasa masa remaja.
Kemampuannya menulis bukan hanya sekadar kemampuan teknis. Ia membawa jejak sejarah, politik, sosial, dan pengalaman hidup — termasuk pengalaman pahit bertempur dengan badai pikiran — ke dalam setiap puisi dan esainya. Dalam banyak karyanya, kita menemukan jejak perenungan yang dalam tentang kehidupan, kematian, cinta, dan konflik batin hanya bisa dirasakan oleh jiwa yang berani menatap paling dalam jiwanya sendiri.
Matahari Sebutir Pasir: Ketika Buku Menjadi Tempat Berteduh Jiwa
Rekki pernah merasakan sendiri bagaimana puisi menyelamatkannya dari kegelapan batin. Dalam buku kumpulan puisinya berjudul “Matahari Sebutir Pasir”, yang diterbitkan oleh Gambang Buku Budaya pada tahun 2018, Rekki menulis tentang pengalaman yang sangat pribadi — tentang bagaimana puisi menjadi penyelamat dari keinginan berhenti hidup, kesendirian, dan luka jiwa yang begitu dalam hingga terasa tak berujung.
Kita bisa membayangkan betapa besar intensitas pengalaman itu: seorang manusia yang hampir kehilangan arah, tetapi kemudian menemukan makna hidup melalui rangkaian kata yang dirangkai menjadi sajak. Bukan sekadar permainan bahasa, tetapi bahasa yang mampu memeluk luka, menenangkan jiwa, dan mengajak pembacanya keluar dari ngarai kesunyian itu.
Puisi sebagai Senjata Perlawanan dan Empati
Aku membaca “SELIMUT KATA”, salah satu puisinya yang penuh warna emosi dan makna. Puisi itu bukan sekadar kata-kata indah bertumpuk — ia adalah penanda bagaimana jiwa manusia bergulat dengan kebingungan, cinta, dan harapan. Puisi Rekki tidak pernah tampil sebagai hiburan semata — puisi itu justru bertindak sebagai alat perlawanan, yang mempertanyakan dan mendobrak batas-batas kerapuhan batin manusia modern yang kerap kalah oleh kebisingan dunia.
Sajak-sajaknya menginterogasi kita: apakah kita hidup secara sadar, atau sekadar menjadi penonton pasif dari drama kehidupan yang terus berlangsung?
Rekki Zakkia dan Gerak Literasi di Tengah Komunitas
Tapi tulisan-tulisannya saja tidak cukup untuk menggambarkan dampak Rekki pada masyarakat sekitar. Ia juga aktif di komunitas seperti Komunitas Rumah Lebah, Akar Makna Institute, dan SAMAG (Sastra Magelangan), serta berperan sebagai aktivis dalam Front Perjuangan Pemuda Indonesia.
Ini bukan sekadar aktivitas sosial biasa. Ia adalah upaya kolektif untuk menjadikan sastra bukan sekadar bacaan, tetapi sebagai praktik kehidupan sehari-hari. Hal ini sangat penting di era di mana banyak pemuda lebih terikat pada layar gawai daripada buku. Rekki membuka ruang bagi generasi muda untuk membaca kembali dunia, bukan hanya lewat berita atau status media sosial, tetapi lewat bacaan yang membutuhkan refleksi dan ketenangan jiwa.
Filsafat Hidup dan Seni Nyata dalam Festival Budaya
Lebih jauh lagi, Rekki tidak hanya berbicara di ruang akademis atau komunitas kecil saja. Ia hadir dalam aksi budaya nyata. Misalnya, melalui festival seperti Karang Sanggrahan Fest, yang menjadi ajang pertemuan antara nilai budaya lokal dan seni modern — bukan sekadar tontonan, tetapi ruang dialog antara masa lalu dan masa depan generasi muda.
Dalam festival ini, berbagai bentuk seni tradisional dipadukan dengan aspek modern, memberi pesan kuat bahwa budaya bukan sesuatu yang ketinggalan zaman, tetapi bisa menjadi landasan kuat bagi kreativitas dan ekspresi anak muda. Di sinilah semangat putra bangsa seperti Rekki kembali bersinar — memberi ruang pada anak muda untuk mengenal budaya mereka tanpa merasa terasing oleh modernitas.
Menghidupkan Kembali Makna Literasi dan Empati
Rekki bukan hanya menulis untuk dirinya sendiri atau untuk pecinta puisi semata. Puisinya mengundang semua pembaca, dari berbagai latar, untuk merenungkan makna keberadaan mereka di dunia yang begitu cepat berubah. Kita tidak hanya membaca kata-katanya, tetapi juga merasakan denyut yang sama di dalam diri sendiri.
Puisi seperti “HUJAN DI PENGUJUNG FEBRUARI” bukan sekadar meditasi tentang alam, tetapi refleksi tentang masa depan, perjumpaan batin, dan harapan yang terus tumbuh meski segala sesuatu terasa tidak pasti.
Ini jawaban bagi setiap pemuda yang merasa dunia terlalu cepat berubah, terlalu keras, dan terlalu tidak mempedulikan mereka: kata dan bacaan tetap punya kekuatan untuk menyembuhkan, untuk menguatkan, dan terutama, untuk menggerakkan perubahan.
Dari Magelang untuk Indonesia: Rekki sebagai Inspirasi Nasional
Perjalanan Rekki Zakkia mengingatkanku pada semangat para pejuang sastra Nusantara yang lain — mereka yang tidak hanya menulis, tetapi menjadikan kata sebagai senjata dan pelindung jiwa bangsa.
Mungkin kau bertanya, apakah sastra itu penting di era serba digital ini?
Jawabanku: lebih penting dari sebelumnya.
Ketika suara-suara besar sering membuat kita kehilangan rasa — rasa sesama, rasa sejarah, rasa masa depan — sastra hadir untuk mengembalikan semuanya. Sastra mengajarkan empati, mendobrak kebisuan batin, dan membuka ruang bagi pengalaman manusia yang paling personal sekaligus paling universal.
Rekki Zakkia bukan sekadar penyair. Ia adalah wakil dari barisan mereka yang masih percaya bahwa kata memiliki kekuatan yang tak tergantikan. Kata bukan hanya alat komunikasi — kata adalah denyut nadi peradaban.
Merawat Semesta Makna yang Tak Pernah Mati
Dalam satu puisi, Rekki menuliskan bahwa puisi pernah menyelamatkan hidup dan jiwanya dari berbagai kepedihan — termasuk ingatan akan kesepian, patah hati, dan bahkan momen ketika hidup terasa tak layak dijalani. Itu bukan sekadar retorika — itu adalah pengakuan batin yang begitu jujur dan menyayat.
Kisahnya mengajarkan kita satu hal:
bahwa kata memiliki kekuatan untuk mempertemukan jiwa-jiwa yang hilang. Bahwa literasi bukan hanya soal membaca — literasi adalah tentang memahami dan menghidupi makna di balik setiap bacaan.
Dan di tengah derasnya arus digital, di mana banyak hal terasa dangkal dan cepat usang, suara Rekki tetap tenang namun kuat — seperti bara yang tak pernah padam.
.png)



Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis
DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com