BANGSAHEBAT.COM - Assalamu’alaikum anak-anak bangsa,
Ini emak Maya ngomel dikit sambil ngaduk teh manis yang gulanya makin dikit karena harga gula naik, hehehe.
Emak mau curhat nih… sekarang tuh emak sering denger anak-anak muda ketawa cekikikan sambil ngomong,
“Ah itu mah nasehat Jawa, kuno…”
“Ngapain dengerin ‘ojo iki, ojo kuwi’, ribet!”
Lho, le… nduk…
Itu bukan sekadar kata-kata orang tua yang kepo hidupmu.
Itu nasehat Jawa, warisan akal sehat orang dulu yang sudah kenyang makan pahit-manis hidup.
Tapi ya begitulah zaman.
Yang lama dianggap jadul, yang viral dianggap bijak.
Yang pelan dianggap bodoh, yang rame dianggap benar.
Emak miris, tapi emak nggak mau cuma nyinyir.
Mari kita omongin pelan-pelan, kenapa nasehat Jawa sekarang sering jadi bahan candaan, dan kenapa sebetulnya justru anak muda sekarang paling butuh itu nasehat.
Isi Pokok – Nasehat Jawa: Pendek Tapi Dalam
Anak-anak muda mungkin mikir,
“Ngapain sih dengerin kalimat pendek tapi ribet maknanya?”
Padahal nasehat Jawa itu padat gizi, le.
Bukan sekadar larangan, tapi panduan hidup.
Contohnya nih…
1. “Ojo Dumeh” – Jangan Sok Merasa Paling
Sekarang coba jujur,
berapa banyak anak muda yang hidupnya isinya pamer?
- Baru kerja → pamer slip gaji
- Baru kredit motor → pamer cicilan
- Baru pacaran → pamer kemesraan
- Baru viral dikit → langsung merasa paling benar
Padahal orang Jawa dari dulu sudah wanti-wanti:
ojo dumeh.
Artinya apa?
Jangan mentang-mentang:
- Mentang punya jabatan
- Mentang punya uang
- Mentang punya follower
- Mentang punya pasangan cakep
Terus lupa diri.
Sekarang nasehat ini malah jadi bahan candaan,
dibikin meme, dijadiin caption lucu.
Padahal kalau “ojo dumeh” benar-benar dipakai,
nggak akan banyak orang jatuh karena kesombongan sendiri.
2. “Ajining Diri Soko Lathi” – Harga Diri dari Ucapan
Emak sering geleng-geleng lihat komentar anak muda sekarang.
Sedikit-sedikit:
- Makian
- Hinaan
- Body shaming
- Bacot kebablasan
Katanya sih bercanda.
Katanya sih bebas berekspresi.
Lho le… orang Jawa dari dulu sudah bilang:
ajining diri soko lathi
Harga diri seseorang terlihat dari ucapannya.
Sekarang?
Mulut lebih cepat dari otak.
Jempol lebih berani dari tanggung jawab.
Nasehat ini dianggap kuno,
padahal justru cocok buat zaman medsos yang serba reaktif.
3. “Alon-alon Waton Kelakon” – Pelan Asal Sampai
Anak muda sekarang maunya:
- Cepat sukses
- Cepat kaya
- Cepat viral
- Cepat diakui
Pokoknya cepat.
Begitu pelan dikit:
“Ah kalah saing”
“Ah ketinggalan zaman”
Padahal orang Jawa bilang:
alon-alon waton kelakon
Bukan berarti males, le.
Tapi hati-hati, konsisten, dan tahan banting.
Banyak yang ketawa dengar kalimat ini,
padahal yang hidupnya berantakan sering karena pengen cepat tapi nggak siap.
4. “Ojo Kagetan, Ojo Gumunan” – Jangan Gampang Kaget dan Kagum
Sedikit ada tren:
- Langsung ikut
- Langsung FOMO
- Langsung menuhankan idola
Padahal orang Jawa ngajarin:
ojo kagetan, ojo gumunan
Artinya:
Jangan gampang kaget sama hal baru
Jangan gampang kagum sampai kehilangan logika
Sekarang?
Influencer salah ngomong dikit,
langsung diikuti rame-rame.
Nasehat ini malah sering dijadikan lelucon,
padahal ini tameng supaya nggak jadi manusia latah.
Kenapa Nasehat Jawa Sering Dijadikan Candaan?
Emak lihat ada beberapa sebab:
1. Karena Disampaikan Tanpa Penjelasan
Dulu orang tua cuma bilang:
“Pokoknya ojo dumeh!”
Tanpa dijelaskan maknanya.
Anak muda sekarang butuh alasan,
bukan cuma larangan.
2. Karena Dikemas Kaku
Zaman berubah, cara menyampaikan juga harus ikut berubah.
Bukan berarti isinya dibuang.
3. Karena Anak Muda Merasa Lebih Pintar
Internet bikin semua orang merasa tahu segalanya.
Padahal tahu belum tentu bijak.
Padahal Nasehat Jawa Itu Relevan Banget
Emak mau jujur ya…
kalau nasehat Jawa benar-benar dipakai:
- Korupsi bisa ditekan (ojo dumeh)
- Perundungan bisa berkurang (ajining diri soko lathi)
- Anak muda nggak gampang stres (alon-alon waton kelakon)
- Nggak gampang terseret tren bodoh (ojo kagetan)
Ini bukan soal Jawa atau bukan Jawa.
Ini soal nilai hidup.
Ajakan & Sindiran Halus ala Emak
Emak nggak minta anak muda balik ke zaman lampau.
Emak cuma minta satu:
👉 Jangan mentertawakan nasehat sebelum paham isinya.
Kalau nasehat orang tua dianggap kuno,
tapi konten receh dianggap panutan,
yang salah bukan zamannya…
tapi cara memilih pegangan hidupnya.
Bercanda boleh, le…
tapi jangan buang warisan nilai hanya demi terlihat modern.
Anak-anak bangsa,
nasehat Jawa itu bukan rantai yang mengikat,
tapi pegangan supaya hidup nggak kepleset.
Boleh kok ketawa,
asal jangan lupa belajar.
Salam dari dapur kecil emak,
suara hati emak bukan cuma buat masak,
tapi buat bangsa.
👉 Cek terus SUARA EMAK lainnya di BANGSAHEBAT.COM,
karena emak akan terus cerewet demi masa depan anak-anak bangsa.
.png)


Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis
DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com