BANGSAHEBAT.COM - Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini bukan lagi cerita masa depan. Dari penulisan, desain, analisis data, hingga pelayanan publik, AI mulai mengambil alih banyak peran manusia. Di Indonesia, isu ini memicu kegelisahan: apakah AI akan menjadi alat bantu, atau justru menggusur generasi muda dari lapangan pekerjaan? Dialog RBR kali ini mencoba membedah keresahan itu dengan jujur, sederhana, dan membumi.
DIALOG RBR
Rama:
Mas… aku mau jujur. Akhir-akhir ini aku sering kepikiran satu hal.
Bono:
Kalau wajahmu sudah begitu, biasanya bukan soal cinta. Ini pasti soal masa depan.
Ranti:
Atau soal kerjaan. Anak-anak sekarang kalau ngumpul isinya bukan gosip, tapi lowongan.
Rama:
Iya. Tapi bukan cuma soal susah cari kerja.
Aku ngeri lihat AI sekarang. Nulis bisa, desain bisa, ngedit video bisa.
Terus… kita ini mau jadi apa?
Bono:
Nah. Pertanyaan itu sekarang lagi dipikirkan satu dunia, Ram.
Bukan cuma kamu.
Ranti:
Aku juga ngerasain.
Temanku yang kerja sebagai penulis konten, kliennya bilang,
“Sekarang pakai AI dulu ya, lebih cepat.”
Rama:
Itu dia!
Bukan karena kita malas, tapi karena mesin lebih murah dan cepat.
Bono:
Masalahnya bukan di mesinnya.
Masalahnya di cara kita memaknai kerja.
Rama:
Maksudnya?
Bono:
Dulu, orang bekerja dengan otot.
Lalu mesin datang, buruh takut.
Tapi ternyata manusia pindah ke otak.
Sekarang AI masuk ke wilayah otak.
Pertanyaannya: manusia mau pindah ke mana?
Ranti:
Ke hati mungkin?
Rama:
Hati?
Mesin juga sekarang bisa “empati palsu”.
Bono:
Betul. Tapi palsu tetap palsu.
AI bisa meniru emosi, tapi tidak pernah punya luka.
Ranti:
Dan tidak pernah punya tanggung jawab moral.
Rama:
Tapi perusahaan tidak peduli itu, Mas.
Yang penting efisien.
Bono:
Itu sebabnya ketakutan ini jadi wajar.
Karena dunia kerja sekarang bukan lagi soal manusia,
tapi soal angka.
Ranti:
Aku sering dengar kalimat ini:
“Kalau bisa pakai AI, kenapa harus manusia?”
Rama:
Nah itu!
Kalimat itu bikin aku merasa… tidak berguna.
Bono:
Jangan salah.
Kalimat itu bukan menyingkirkan manusia.
Tapi menyingkirkan manusia yang berhenti belajar.
Rama:
Jadi kita harus ngalah sama mesin?
Bono:
Bukan ngalah.
Tapi berubah posisi.
Ranti:
AI itu alat, bukan identitas.
Yang bahaya kalau manusia menyerahkan keputusan hidupnya ke alat.
Rama:
Tapi realitanya, banyak orang di-PHK karena otomatisasi.
Bono:
Itu benar. Dan itu pahit.
Karena perubahan selalu korbanin orang yang tidak siap.
Ranti:
Yang bikin sedih, negara sering datang terlambat.
Rama:
Iya. Pelatihan ada, tapi tidak nyambung sama kebutuhan nyata.
Bono:
Karena kebijakan sering dibuat lebih cepat dari pemahaman.
Ranti:
Aku takut satu hal, Mas.
Bono:
Apa?
Ranti:
Kita sibuk ngejar skill AI,
tapi lupa ngajarin manusia cara jadi manusia.
Rama:
Seperti?
Ranti:
Kejujuran.
Empati.
Keberanian ambil tanggung jawab.
Hal-hal yang tidak bisa diotomatisasi.
Bono:
Itu inti persoalannya.
AI bisa menggantikan tugas,
tapi tidak bisa menggantikan makna.
Rama:
Tapi kalau orang tidak punya kerja,
makna itu bisa mati juga.
Bono:
Itu sebabnya diskusi ini tidak boleh berhenti di teknologi.
Harus sampai ke sistem ekonomi dan keadilan sosial.
Ranti:
Dan ke pendidikan.
Rama:
Jadi menurut Mas Bono, kita harus takut atau tidak?
Bono:
Takut itu manusiawi.
Tapi kalau takutnya bikin lumpuh, itu berbahaya.
Ranti:
AI bukan musuh.
Ketidakadilan akseslah yang jadi musuh.
Rama:
Berarti yang selamat bukan yang paling pintar?
Bono:
Tapi yang paling adaptif dan paling sadar diri.
Ranti:
Dan yang masih mau belajar tanpa kehilangan nurani.
Rama:
Aku baru sadar satu hal.
Yang bikin kita kalah bukan AI…
tapi kalau kita berhenti berpikir.
Bono:
Dan berhenti peduli.
Ranti:
Karena di dunia yang makin otomatis,
kepedulian justru jadi barang langka.
Dialog RBR ini membahas keresahan generasi muda terhadap perkembangan AI dan otomatisasi yang mengancam lapangan pekerjaan. AI bukan musuh manusia, tetapi tantangan besar bagi sistem pendidikan, dunia kerja, dan keadilan sosial. Manusia tidak kalah karena teknologi, melainkan karena berhenti belajar, kehilangan empati, dan menyerahkan sepenuhnya keputusan hidup pada mesin.
.png)


Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis
DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com