BANGSAHEBAT.COM - Belakangan ini, satu label sering muncul di ruang publik: generasi malas. Anak muda disebut kurang tangguh, mudah menyerah, dan terlalu banyak mengeluh. Namun di balik label itu, ada realitas yang jarang didengar—generasi yang bekerja keras, tetapi hasilnya tidak sebanding; berjuang panjang, tetapi masa depan tetap kabur.
Dialog RBR kali ini membahas kelelahan generasi muda yang bukan lahir dari kemalasan, melainkan dari sistem yang menguras tenaga tanpa memberi harapan.
Dialog RBR
Rama:
Bon, kamu sadar nggak sih, akhir-akhir ini banyak banget yang bilang generasi sekarang itu lemah?
Ranti:
Iya. Katanya dikit-dikit capek, dikit-dikit mental health.
Bono:
Label itu gampang dilempar, Rama. Tapi jarang yang mau duduk dan benar-benar mendengar.
Rama:
Aku jujur kesel. Kami kerja, belajar, ngejar ini-itu. Tapi kok selalu dibilang kurang berjuang?
Ranti:
Padahal capek itu nyata. Aku lihat teman-temanku bukan malas, mereka cuma… lelah.
Bono:
Kelelahan yang tidak diberi nama akhirnya disebut malas.
Rama:
Dulu katanya kerja keras pasti berbuah. Sekarang kerja keras malah sering berujung kelelahan.
Bono:
Karena sistem berubah, tapi tuntutan tetap. Bahkan naik.
Ranti:
Harga naik, harapan turun.
Rama:
Aku punya teman, kerja dari pagi sampai malam. Gajinya habis buat hidup dasar. Nabung? Jauh.
Bono:
Itu bukan kegagalan personal, Rama. Itu kegagalan struktur.
Ranti:
Tapi yang disalahkan tetap manusianya.
Rama:
Kenapa generasi sebelumnya sering nggak mau percaya kalau generasi sekarang benar-benar capek?
Bono:
Karena mereka tumbuh di zaman ketika usaha masih punya jarak yang wajar dengan hasil.
Ranti:
Sekarang jaraknya kayak jalan kaki ke langit.
Rama:
Aku kadang mikir, apa capek itu dosa?
Bono:
Dalam budaya produktivitas, iya. Capek dianggap tanda lemah.
Ranti:
Padahal capek itu tanda masih berjuang.
Rama:
Yang bikin tambah capek, kami bukan cuma dituntut kuat, tapi juga dituntut terlihat bahagia.
Bono:
Itu kelelahan ganda. Tubuh lelah, emosi ditekan.
Ranti:
Senyum di luar, runtuh di dalam.
Rama:
Media sosial juga bikin semua terasa makin berat. Semua orang kelihatan sukses.
Bono:
Padahal itu etalase. Yang dipajang hasil, bukan proses.
Ranti:
Dan yang lihat merasa tertinggal.
Rama:
Kalau generasi sekarang dibilang lemah, kenapa angka burnout justru naik?
Bono:
Karena yang lemah bukan mentalnya, tapi ruang bernapasnya.
Ranti:
Hidup jadi lomba tanpa garis finish.
Rama:
Bon, menurutmu, apa yang sebenarnya hilang dari generasi kami?
Bono:
Harapan yang realistis.
Ranti:
Bukan mimpi besar, tapi masa depan yang masuk akal.
Rama:
Kami disuruh bermimpi tinggi, tapi tangganya rapuh.
Bono:
Dan kalau jatuh, dibilang kurang usaha.
Ranti:
Padahal yang patah itu sistem penyangganya.
Rama:
Aku takut, capek ini berubah jadi apatis.
Bono:
Itu risiko terbesar. Ketika lelah berubah jadi tidak peduli.
Ranti:
Dan generasi yang tidak peduli, akan mudah dimanfaatkan.
Rama:
Apa yang seharusnya dilakukan?
Bono:
Pertama, berhenti meremehkan kelelahan. Dengarkan sebelum menilai.
Ranti:
Dan berhenti membandingkan zaman.
Rama:
Kenapa membandingkan itu berbahaya?
Bono:
Karena setiap zaman punya luka sendiri.
Ranti:
Dan luka hari ini tidak bisa disembuhkan dengan cerita kemarin.
Rama:
Aku cuma ingin satu hal.
Bono:
Apa itu?
Rama:
Diakui bahwa kami berjuang. Meski hasilnya belum terlihat.
Ranti:
Pengakuan itu bisa jadi tenaga baru.
Bono:
Generasi capek bukan generasi lemah.
Rama:
Kami generasi yang bertahan di tengah ketidakpastian.
Ranti:
Dan bertahan itu juga bentuk keberanian.
Rama:
Kalau terus dibilang malas, apa yang akan terjadi?
Bono:
Rasa percaya diri runtuh pelan-pelan.
Ranti:
Dan orang-orang baik mulai meragukan dirinya sendiri.
Rama:
Padahal yang dibutuhkan generasi ini sederhana.
Bono:
Kesempatan yang adil.
Ranti:
Dan ruang untuk bernapas tanpa dihakimi.
Rama:
Mungkin generasi sekarang bukan butuh motivasi.
Bono:
Tapi butuh sistem yang tidak menghisap habis.
Ranti:
Butuh masa depan yang tidak terasa seperti ancaman.
Bono:
Kelelahan generasi ini adalah alarm.
Rama:
Alarm bahwa ada yang salah.
Ranti:
Dan alarm itu seharusnya didengar, bukan dimatikan.
Rama:
Kalau tidak?
Bono:
Kita akan punya generasi yang hidup, tapi tidak benar-benar hidup.
Ranti:
Dan dunia yang ramai, tapi hampa.
Dialog RBR ini membahas fenomena generasi muda yang sering dilabeli malas, padahal sebenarnya mengalami kelelahan struktural akibat tekanan hidup, tuntutan ekonomi, dan ketidakpastian masa depan. RBR menegaskan bahwa kelelahan generasi bukan tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa sistem perlu diperbaiki agar manusia tidak terus dikorbankan demi produktivitas semu.
.png)


Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis
DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com