BANGSAHEBAT.COM - Ketika Negara Terasa Jauh, dan Dompet Terasa Dekat dengan Kosong
Ada satu pemandangan yang makin sering kita lihat, tapi jarang benar-benar kita bicarakan dengan jujur.
Rakyat bangun pagi memikirkan harga beras, biaya sekolah, cicilan, dan pekerjaan yang makin rapuh.
Sementara di layar kaca dan linimasa, elite sibuk memikirkan posisi, koalisi, dan strategi bertahan.
Dua dunia ini berjalan bersamaan, tapi seperti tidak pernah saling menyapa.
Bukan karena rakyat tak peduli negara.
Justru karena rakyat terlalu peduli dengan hidupnya hari ini.
Negara yang Ramai Bicara, Tapi Sepi Mendengar
Kita hidup di era di mana negara terlihat sangat aktif:
- Banyak pidato
- Banyak pernyataan
- Banyak program
- Banyak narasi optimisme
Tapi di bawahnya, rakyat sering bertanya pelan-pelan:
“Kenapa hidup saya tidak ikut optimis?”
Masalahnya bukan pada niat.
Masalahnya sering ada pada jarak.
Jarak antara kebijakan dan kenyataan.
Jarak antara narasi besar dan perut kecil.
Jarak antara ruang rapat dan ruang dapur.
Elite Bertahan Kekuasaan, Rakyat Bertahan Kehidupan
Ini bukan tuduhan, ini potret.
Rakyat hari ini sedang bertahan:
- Bertahan agar dapur tetap mengepul
- Bertahan agar anak tetap sekolah
- Bertahan agar tidak sakit
- Bertahan agar tidak kehilangan pekerjaan
Sementara elite—dalam banyak momen—sedang bertahan:
- Bertahan agar tidak kehilangan posisi
- Bertahan agar tetap relevan
- Bertahan agar tetap punya pengaruh
Keduanya sama-sama bertahan.
Tapi medannya berbeda, dan risikonya tidak setara.
Kalau rakyat gagal bertahan, yang jatuh adalah keluarga.
Kalau elite gagal bertahan, yang jatuh sering hanya jabatan—dan itu pun masih bisa bangkit di tempat lain.
Demokrasi yang Terasa Administratif, Bukan Emosional
Demokrasi kita bekerja secara prosedural:
- Pemilu berjalan
- Regulasi disusun
- Lembaga berfungsi
Namun sering lupa satu hal penting:
emosi rakyat.
Bukan emosi marah, tapi emosi lelah.
Bukan emosi benci, tapi emosi kecewa yang dipendam.
Rakyat jarang marah dengan teriak.
Mereka marah dengan diam.
Dan diam yang panjang sering kali jauh lebih berbahaya.
Ketika Rakyat Mulai Tidak Berharap
Tahap paling berbahaya dalam kehidupan berbangsa bukan saat rakyat mengkritik.
Tapi saat rakyat berhenti berharap.
Karena orang yang masih berharap akan bicara.
Orang yang sudah tidak berharap akan berkata dalam hati:
“Ya sudahlah, yang penting saya dan keluarga saya selamat.”
Di titik ini, nasionalisme berubah menjadi sekadar formalitas.
Cinta tanah air berubah menjadi urusan administratif, bukan lagi emosional.
Negara Tidak Boleh Hanya Hadir di Atas Kertas
Negara sejatinya bukan hanya:
- Peraturan
- Struktur
- Anggaran
- Pidato
Negara adalah rasa aman.
Rasa bahwa ketika rakyat jatuh, ada tangan yang menopang.
Bukan sekadar slogan, tapi pengalaman nyata.
Rakyat tidak minta dimanjakan.
Rakyat hanya ingin tidak ditinggalkan.
Refleksi Bangsa
Barangkali sudah waktunya kita jujur mengakui:
Bahwa masalah terbesar kita bukan kekurangan konsep,
melainkan kelebihan jarak.
Jarak antara yang memimpin dan yang dipimpin.
Jarak antara yang bicara dan yang mendengar.
Jarak antara yang merasa aman dan yang setiap hari bertaruh hidup.
Jika jarak ini terus dibiarkan,
maka suatu hari negara akan tetap berdiri megah,
tapi kepercayaan rakyatnya sudah pindah alamat.
Dan negara tanpa kepercayaan,
hanyalah bangunan besar yang kosong isinya.
.png)


Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis
DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com