BANGSAHEBAT.COM - Assalamu’alaikum anak-anak bangsa…
ini emak Maya nulis sambil nunggu air mendidih di dapur kecil emak. Dapurnya tenang, tapi hati emak nggak pernah benar-benar tenang tiap dengar kabar begini:
“Mak, si anu hamil…”
“Mak, anak tetangga nikah mendadak…”
“Mak, masih sekolah, tapi sudah kebablasan…”
Dulu kabar seperti ini jarang terdengar. Sekarang? Seperti berita rutin. Yang bikin emak makin sedih, pelakunya anak-anak yang usianya masih belasan, bahkan ada yang belum paham hidup itu apa.
Emak nggak mau menghakimi. Tapi emak juga nggak mau pura-pura tutup mata. Karena kalau emak diam, berarti emak ikut membiarkan anak-anak bangsa tumbuh tanpa arah dan tanpa pelindung nilai.
Pacaran Dulu vs Pacaran Sekarang
Dulu pacaran itu:
- Pegangan tangan saja deg-degan
- Ketahuan orang tua bisa gemetar
- Ketemu cuma sebentar, ditemani rasa takut dan malu
Sekarang pacaran itu:
- Bebas
- Lama
- Minim pengawasan
- Maksim godaan
Emak lihat sendiri, pacaran hari ini bukan lagi soal saling mengenal, tapi saling memiliki seolah sudah halal. Padahal belum sah, belum siap, dan belum paham konsekuensinya.
Yang lebih bikin emak miris, banyak yang menganggap:
“Ah biasa, Mak. Semua juga begitu.”
Lho? Sejak kapan kebablasan jadi biasa?
Cinta yang Disalahartikan
Banyak anak Gen Z sekarang mengira cinta itu:
- Harus selalu dekat
- Harus selalu menuruti
- Harus membuktikan dengan tubuh
Padahal cinta sejati justru tahu batas.
Tahu kapan berhenti.
Tahu kapan menjaga.
Kalau cinta membuat kamu:
- Kehilangan masa depan
- Menyusahkan orang tua
- Menghancurkan diri sendiri
Emak berani bilang: itu nafsu yang dibungkus kata cinta.
Media Sosial Ikut Menormalisasi yang Salah
Sekarang apa-apa jadi konten.
Pacaran jadi konten.
Pelukan jadi konten.
Bahkan yang harusnya privat, dipamerkan tanpa malu.
Anak-anak melihat:
- Influencer pacaran mesra
- Drama cinta dewasa
- Gaya hidup bebas
Tapi tidak pernah melihat:
- Air mata setelah hamil
- Tekanan mental
- Masa depan yang terhenti
Yang ditampilkan cuma manisnya, pahitnya disembunyikan.
Akhirnya anak muda meniru tanpa tahu harga yang harus dibayar.
Ketika Hamil Datang, Semua Mendadak Panik
Emak sudah sering lihat kejadian ini.
Awalnya:
- Pacaran santai
- Merasa aman
- Merasa “nggak mungkin kejadian”
Begitu hamil:
- Anak perempuan ketakutan
- Anak laki-laki bingung
- Orang tua syok
- Masa depan mendadak gelap
Ada yang:
- Dipaksa nikah padahal belum siap
- Putus sekolah
- Ditinggal pasangannya
- Mengalami trauma seumur hidup
Dan yang paling sering jadi korban paling berat?
Anak perempuannya.
Anak Perempuan Menanggung Beban Berlapis
Emak mau bicara jujur dan adil.
Kalau hamil di luar nikah:
- Perempuan yang dicibir
- Perempuan yang disalahkan
- Perempuan yang masa depannya berhenti
Sementara laki-lakinya?
Kadang masih bisa sekolah, kerja, bahkan kabur dari tanggung jawab.
Ini bukan adil, Nak.
Dan ini yang bikin emak marah sekaligus sedih.
Orang Tua Terlalu Percaya, Terlalu Longgar
Emak juga mau mengingatkan sesama orang tua.
Zaman sekarang tidak bisa mendidik anak dengan pola lama. Dunia berubah. Godaan lebih dekat. Akses lebih mudah.
Kalau orang tua:
- Terlalu sibuk
- Terlalu percaya
- Terlalu takut dibilang kolot
Maka anak mencari jawabannya sendiri di luar. Dan sering kali, jawabannya salah.
Mengawasi bukan berarti mengekang.
Bertanya bukan berarti curiga.
Menjaga bukan berarti tidak percaya.
Sekolah Kurang Berani Bicara Jujur
Sekolah sering mengajarkan:
- Biologi secara kaku
- Moral secara teori
Tapi jarang bicara realita kehidupan.
Anak tahu proses hamil secara ilmiah, tapi tidak tahu:
- Tekanan mentalnya
- Dampak sosialnya
- Tanggung jawab seumur hidupnya
Pendidikan seksual bukan mengajarkan “cara”, tapi mengajarkan konsekuensi. Dan ini sering dihindari karena dianggap tabu.
Padahal yang tabu itu bukan ilmunya, tapi kebodohan yang dibiarkan.
Pacaran Tanpa Arah = Masalah Tanpa Akhir
Pacaran tanpa tujuan jelas itu seperti naik motor tanpa rem. Awalnya seru, akhirnya celaka.
Emak mau tanya ke anak-anak:
👉 “Pacaranmu mau dibawa ke mana?”
Kalau jawabannya:
- “Nanti aja dipikirin”
- “Jalanin dulu”
- “Yang penting bahagia”
Emak cuma bisa bilang:
bahagia tanpa tanggung jawab itu sementara, tapi dampaknya selamanya.
Pesan Emak Buat Anak Gen Z
Nak…
Emak tahu kamu hidup di zaman yang sulit. Godaan di mana-mana. Tekanan juga berat. Tapi bukan berarti kamu harus menyerahkan masa depanmu demi rasa sesaat.
Menjaga diri itu bukan kuno.
Menunda itu bukan lemah.
Menolak itu bukan tidak cinta.
Justru kamu kuat kalau bisa bilang:
“Aku belum siap.”
Pesan Emak Buat Orang Tua
Jangan lelah mendampingi anak. Jangan hanya bertanya nilai dan prestasi, tapi juga:
- Dengan siapa dia berteman
- Apa yang dia tonton
- Apa yang dia rasakan
Jadilah tempat anak pulang sebelum dia mencari pelarian.
Pesan Emak Buat Negara dan Masyarakat
Kalau kita terus pura-pura tidak melihat masalah ini, jangan heran kalau generasi ke depan tumbuh dengan luka yang lebih besar.
Negara perlu:
- Edukasi seks yang beradab dan jujur
- Perlindungan bagi remaja
- Sistem yang berpihak pada masa depan anak
Masyarakat juga harus berhenti mencibir, dan mulai membimbing.
Pacaran itu wajar, Nak.
Cinta itu manusiawi.
Tapi kebablasan itu pilihan yang bisa dicegah.
Jangan tukar masa depanmu dengan kenikmatan sesaat. Jangan biarkan cinta berubah jadi beban seumur hidup.
Salam dari dapur kecil emak,
suara hati emak bukan cuma buat masak, tapi buat bangsa.
Cek terus suara emak lainnya di BANGSAHEBAT.COM!
.png)


Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis
DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com