BANGSAHEBAT.COM - Korupsi bukan hanya soal mencuri uang negara, tetapi juga tentang kecerdikan licik dalam menghindari hukum. Di Indonesia, publik kerap menyaksikan pola yang berulang: tersangka menghilang, mangkir, sakit mendadak, hingga berlindung di balik kekuasaan dan drama kemanusiaan. Dialog RBR kali ini membedah pola-pola klasik hingga modern yang kerap digunakan koruptor untuk menghindari kejaran aparat penegak hukum, dengan bahasa sederhana namun tajam.
Dialog RBR
Rama:
Mas Bono, aku heran deh. Setiap kali ada kasus besar, kenapa selalu ada cerita orang “tidak ditemukan”, “sedang sakit”, atau “tidak tahu panggilan”?
Bono:
Karena, Ram, korupsi itu bukan cuma kejahatan finansial. Ia juga kejahatan strategi. Mereka sudah menyiapkan jalan keluar bahkan sebelum kejahatan terbongkar.
Ranti:
Jadi maksud Mas Bono, koruptor itu sudah punya rencana kabur dari awal?
Bono:
Bukan sekadar kabur, Ranti. Mereka menyiapkan narasi. Dan narasi itu seringkali lebih kuat daripada hukum.
Rama:
Narasi seperti apa?
Bono:
Sederhana. Narasi korban. Narasi sakit. Narasi lupa. Narasi tidak tahu. Bahkan narasi “saya hanya bawahan”.
Ranti:
Oh… yang tiba-tiba masuk rumah sakit itu ya?
Bono:
Nah, itu pola pertama: sakit strategis.
1. Sakit sebagai Tameng Moral
Rama:
Kenapa sakit selalu jadi alasan ampuh?
Bono:
Karena masyarakat kita mudah luluh oleh penderitaan fisik. Orang sakit dianggap tidak layak diperiksa, tidak pantas dikejar. Padahal sakit bisa datang mendadak… dan pergi mendadak juga.
Ranti:
Kadang aku mikir, kok pas mau dipanggil, baru ketahuan sakit?
Bono:
Karena sakit itu bukan selalu kondisi medis, tapi kondisi taktis.
Rama:
Berarti bukan pura-pura, tapi dimanfaatkan?
Bono:
Tepat. Ada sakit, tapi juga ada penguatan sakit. Dirawat lama, dipublikasikan, difoto, dijadikan perisai moral.
2. Menghilang Secara Terhormat
Ranti:
Kalau yang tiba-tiba tidak bisa ditemukan?
Bono:
Itu pola kedua: menghilang terstruktur.
Rama:
Maksudnya kabur?
Bono:
Tidak selalu kabur. Kadang hanya “tidak di alamat”, “sedang ke luar kota”, “sedang ibadah”, atau “tidak bisa dihubungi”.
Ranti:
Seperti sengaja dibuat samar?
Bono:
Ya. Menghilang tapi tidak terlihat bersalah. Karena yang terlihat bersalah itu hanya pelarian kasar. Yang licik itu menghilang dengan sopan.
3. Bermain Waktu Sampai Publik Lelah
Rama:
Kenapa mereka senang menunda-nunda?
Bono:
Karena publik punya ingatan pendek. Isu hari ini bisa kalah oleh isu besok.
Ranti:
Jadi mereka cuma nunggu masyarakat lupa?
Bono:
Betul. Ini pola ketiga: mengulur waktu.
Rama:
Dengan mangkir, minta penjadwalan ulang, ganti kuasa hukum?
Bono:
Semua itu senjata waktu. Setiap hari yang lewat adalah peluang perhatian publik melemah.
4. Berlindung di Balik Jabatan dan Struktur
Ranti:
Kalau yang masih menjabat, apa itu juga strategi?
Bono:
Itu pola keempat: perlindungan struktural.
Rama:
Karena masih punya kuasa?
Bono:
Karena jabatan memberi jarak. Ada protokol, ada izin, ada birokrasi. Hukum jadi harus antre.
Ranti:
Padahal uangnya sudah diambil.
Bono:
Tapi jabatannya masih bisa dipakai sebagai tameng sosial.
5. Drama Keluarga dan Air Mata Publik
Rama:
Aku sering lihat keluarga ikut bicara ke media.
Bono:
Itu pola kelima: emosionalisasi kasus.
Ranti:
Supaya publik kasihan?
Bono:
Supaya fokus bergeser. Dari kejahatan ke penderitaan keluarga. Dari fakta ke empati.
Rama:
Jadi kejahatannya jadi kabur?
Bono:
Bukan kabur, tapi tertutup air mata.
6. Mengaku Kecil, Menyalahkan Sistem
Ranti:
Ada juga yang bilang, “Saya cuma ikut perintah.”
Bono:
Itu pola keenam: merendahkan peran diri.
Rama:
Padahal tanda tangannya ada.
Bono:
Ya, tapi narasinya: saya pion, bukan pemain. Saya kecil, bukan pengendali.
Ranti:
Sedih ya, Mas. Salah tapi merasa korban.
Bono:
Itulah puncak ironi korupsi.
7. Menyerang Balik dengan Opini
Rama:
Ada yang malah menyerang balik aparat.
Bono:
Itu pola ketujuh: counter narrative.
Ranti:
Membuat opini tandingan?
Bono:
Iya. Menggiring seolah dirinya dizalimi, dipolitisasi, atau dijadikan target.
Rama:
Jadi bukan membela diri, tapi membingungkan publik.
Bono:
Tepat.
Refleksi Akhir
Ranti:
Mas Bono, kalau begitu, apa yang paling berbahaya dari semua pola ini?
Bono:
Bukan kaburnya. Tapi normalisasinya.
Rama:
Maksudnya?
Bono:
Saat masyarakat mulai menganggap wajar orang mangkir, sakit mendadak, atau menghilang. Saat itu korupsi bukan lagi kejahatan luar biasa, tapi rutinitas.
Ranti:
Berarti tugas kita bukan cuma marah?
Bono:
Benar. Tapi ingat. Jangan cepat lupa.
Rama:
Karena lupa adalah kemenangan terbesar koruptor.
Bono:
Dan ingatan publik adalah hukuman sosial paling panjang.
Dialog RBR ini membahas berbagai pola yang kerap digunakan koruptor untuk menghindari proses hukum: mulai dari sakit strategis, menghilang terstruktur, mengulur waktu, berlindung di balik jabatan, memainkan emosi publik, merendahkan peran, hingga membangun opini tandingan. Inti pesan dialog ini menekankan bahwa lupa adalah senjata paling ampuh bagi koruptor, dan ingatan publik adalah benteng terakhir keadilan.
.png)


Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis
DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com