TUroTUr5TpA6TUO7BSM0TfG0Ti==

Koperasi Merah Putih: Jalan Sunyi Desa Bangkit dari Ketergantungan, KATA PAK LURAH WAGUYO


BANGSAHEBAT.COM
 - Di desa, kata koperasi sering terdengar akrab tapi terasa jauh. Ada papan nama, ada stempel, ada rapat tahunan—namun ruh gotong royongnya perlahan memudar. Di tengah naiknya harga pupuk, sulitnya modal UMKM, dan derasnya arus pinjaman online, muncul kembali satu gagasan lama dengan semangat baru: Koperasi Merah Putih.

Pak Lurah Waguyo memandang koperasi bukan sekadar badan usaha, melainkan benteng kedaulatan ekonomi rakyat kecil.

Dialog Pak Lurah Waguyo

Pak Lurah Waguyo:
(menghela napas pelan di pendopo desa)
“Zaman saya kecil, koperasi itu bukan pilihan, tapi kebutuhan. Mau beli pupuk ya lewat koperasi. Mau pinjam uang buat nikahin anak, ya ke koperasi. Sekarang… kok orang desa malah lebih kenal pinjol daripada koperasi?”

Bu Ngatini:
(tersenyum lembut sambil menuang teh hangat)
“Karena koperasi sekarang banyak yang cuma nama, Pak. Orang nggak ngerasa memiliki.”

Pak Lurah Waguyo:
“Nah itu. Makanya waktu dengar istilah Koperasi Merah Putih, saya langsung mikir: ini bukan soal warna bendera, tapi soal keberanian mengembalikan koperasi ke rakyat.”

Sutini:
(duduk bersila, mata berbinar polos)
“Pak Lurah, kenapa namanya Merah Putih? Emang bedanya sama koperasi biasa?”

Pak Lurah Waguyo:
“Pertanyaanmu lugu tapi dalam, Tin. Merah Putih itu lambang keberanian dan kesucian niat. Koperasi Merah Putih artinya koperasi yang berani melawan ketergantungan dan suci dari akal-akalan pengurus.”

Sutini:
“Oh… jadi bukan buat pengurusnya aja kaya?”

Pak Lurah Waguyo:
(tertawa kecil)
“Kalau koperasi bikin pengurusnya doang kaya, itu namanya bukan koperasi. Itu toko pribadi.”

Makna Koperasi Merah Putih bagi Desa

Pak Lurah Waguyo:
“Koperasi Merah Putih harus berdiri di tiga kaki, Tin. Pertama, kepemilikan bersama. Kedua, keuntungan bersama. Ketiga, keputusan bersama.”

Bu Ngatini:
“Kalau salah satu pincang, jatuh ya, Pak?”

Pak Lurah Waguyo:
“Betul, Nggih. Desa kita sering jatuh bukan karena malas, tapi karena keputusan ekonomi diambil segelintir orang.”

Sutini:
“Terus koperasi ini bisa bantu apa aja, Pak?”

Pak Lurah Waguyo:
“Banyak. Dari simpan pinjam tanpa mencekik, penyedia pupuk murah, sampai bantu UMKM desa naik kelas. Tapi syaratnya satu: kejujuran.”

Masalah Lama yang Harus Diselesaikan

Pak Lurah Waguyo:
“Dulu koperasi mati pelan-pelan karena laporan keuangan cuma dipahami satu orang. Anggota cuma disuruh tanda tangan.”

Bu Ngatini:
“Itu yang bikin orang trauma, Pak.”

Pak Lurah Waguyo:
“Koperasi Merah Putih nggak boleh begitu. Laporan harus dibacakan, dijelaskan, bahkan diperdebatkan. Kalau perlu, Sutini yang masih sekolah pun harus bisa paham.”

Sutini:
(terkejut)
“Lho, aku?”

Pak Lurah Waguyo:
“Iya. Kalau anak muda paham koperasi, masa depan desa aman.”

Koperasi vs Pinjaman Online

Sutini:
“Pak Lurah, temenku ibunya pinjam online, bunganya gede banget.”

Pak Lurah Waguyo:
(wajahnya serius)
“Itulah kenapa koperasi harus hidup. Pinjol itu cepat, tapi mencekik. Koperasi itu pelan, tapi menyelamatkan.”

Bu Ngatini:
“Kalau koperasi kuat, orang nggak perlu lari ke luar desa cari modal.”

Pak Lurah Waguyo:
“Benar. Uang muter di desa, bukan lari ke kota.”

Peran Anak Muda dalam Koperasi Merah Putih

Pak Lurah Waguyo:
“Koperasi Merah Putih nggak boleh alergi teknologi. Anak muda harus masuk.”

Sutini:
“Masuk jadi apa, Pak?”

Pak Lurah Waguyo:
“Jadi pengelola digital, pemasaran online, transparansi keuangan. Koperasi modern tapi jiwanya desa.”

Bu Ngatini:
“Biar koperasi nggak kelihatan kuno.”

Pak Lurah Waguyo:
“Kuno itu bukan soal usia, tapi soal pikiran.”

Gotong Royong yang Diperbarui

Pak Lurah Waguyo:
“Dulu gotong royong itu angkat batu bareng. Sekarang gotong royong itu patungan modal, patungan risiko, dan patungan untung.”

Sutini:
“Berarti koperasi itu gotong royong versi ekonomi ya, Pak?”

Pak Lurah Waguyo:
“Persis. Dan Koperasi Merah Putih harus jadi contoh bahwa gotong royong masih relevan di zaman digital.”

Penutup: Suara Desa untuk Indonesia

Pak Lurah Waguyo:
“Koperasi Merah Putih bukan solusi instan. Tapi dia adalah jalan sunyi yang jujur. Desa tidak butuh belas kasihan, desa butuh sistem yang adil.”

(menatap sawah di kejauhan)
“Kalau koperasi hidup, petani berdaulat. Kalau petani berdaulat, desa berdiri tegak. Dan kalau desa berdiri tegak, Indonesia tidak akan mudah goyah.”

Bu Ngatini:
(tersenyum hangat)
“Pelan-pelan asal jalan, Pak.”

Sutini:
“Kalau koperasinya kuat, aku pengen gabung dari sekarang.”

Pak Lurah Waguyo:
(tersenyum penuh wibawa)
“Itulah Merah Putih yang sesungguhnya, Tin. Bukan di tiang, tapi di hati rakyat.”

Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis

DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com

https://www.bangsahebat.com/search/label/FOKUS%20BANGSA
https://www.bangsahebat.com/p/press-release-gerakan-bangsahebatcom.html

Type above and press Enter to search.