TUroTUr5TpA6TUO7BSM0TfG0Ti==

Ketika Semua Ingin Didengar, Tak Ada yang Mau Mendengar


BANGSAHEBAT.COM
 - Ada satu paradoks aneh yang sedang kita alami bersama:

semua orang ingin bicara, tapi hampir tak ada yang benar-benar mau mendengar.

Timeline penuh suara.
Ruang publik riuh.
Diskusi tak pernah sepi.

Namun entah mengapa, semakin ramai suara, semakin terasa sunyi makna.

Kita hidup di zaman ketika didengar menjadi tujuan, bukan lagi memahami.
Ketika mikrofon lebih penting daripada telinga.
Ketika komentar lebih cepat lahir dibandingkan empati.

Dan di situlah masalah bangsa ini mulai tumbuh tanpa kita sadari.

Demokrasi yang Ramai Tapi Kehilangan Arah

Demokrasi seharusnya tentang dialog.
Tentang perbedaan yang dipertemukan lewat kesediaan untuk saling mendengar.

Namun hari ini, demokrasi lebih mirip panggung terbuka.
Semua naik.
Semua bicara.
Tak ada yang benar-benar turun untuk menyimak.

Pendapat bukan lagi jembatan, tapi senjata.
Argumen bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk memenangkan perdebatan.

Yang penting viral.
Yang penting disorot.
Soal benar atau tidak, nanti saja.

Kita lupa bahwa demokrasi bukan soal siapa paling keras,
melainkan siapa paling tulus mendengar suara yang berbeda.

Media Sosial: Rumah Suara, Kuburan Dialog

Media sosial memberi kita ruang bicara tanpa batas.
Semua bisa jadi komentator.
Semua bisa jadi pakar.

Namun sayangnya, ruang itu jarang menjadi ruang dialog.
Lebih sering berubah menjadi arena saling serang.

Kita membaca bukan untuk memahami,
tapi untuk mencari celah menyerang.

Kita mendengar bukan untuk menyerap,
tapi untuk membalas.

Akhirnya, media sosial bukan lagi tempat bertukar pikiran,
melainkan tempat menumpuk ego.

Dan ego, ketika terlalu ramai, selalu mematikan empati.

Budaya Bicara yang Kehilangan Kesunyian

Dalam budaya kita, dulu mendengar adalah adab.
Diam adalah tanda hormat.
Menunggu giliran bicara adalah bentuk kedewasaan.

Hari ini, diam dianggap kalah.
Mendengar dianggap lemah.
Tidak berkomentar dianggap tidak peduli.

Padahal justru sebaliknya.

Tidak semua hal perlu ditanggapi.
Tidak semua suara harus dilawan.
Tidak semua perbedaan harus dimenangkan.

Kadang, bangsa ini tidak kekurangan orang pintar.
Ia hanya kekurangan orang yang mau berhenti sejenak dan mendengar.

Ketika Elit Bicara, Rakyat Hanya Jadi Latar

Fenomena ini tak berhenti di media sosial.
Ia merambat ke ruang kebijakan.

Banyak yang bicara atas nama rakyat,
tapi jarang yang benar-benar duduk bersama rakyat.

Rapat berjalan.
Pidato panjang.
Narasi disusun rapi.

Namun pertanyaan dasarnya sederhana:
apakah yang dibicarakan benar-benar hasil dari mendengar?

Ataukah hanya hasil dari asumsi?

Bangsa ini tidak kekurangan konsep.
Ia kekurangan keberanian untuk mendengar suara yang tidak nyaman.

Mendengar Itu Kerja Berat

Jujur saja, mendengar memang melelahkan.
Ia menuntut kita menunda ego.
Ia memaksa kita menerima kemungkinan bahwa kita bisa salah.

Mendengar berarti membuka ruang koreksi.
Dan tidak semua orang siap dikoreksi.

Itulah sebabnya banyak yang memilih bicara terus.
Karena bicara memberi ilusi kuasa.
Sementara mendengar menuntut kerendahan hati.

Namun tanpa kerendahan hati,
tak ada bangsa yang bisa tumbuh sehat.

Bangsa yang Keras Kepala Akan Kehilangan Arah

Bangsa yang tidak mau mendengar akan mengulang kesalahan yang sama.
Berulang.
Tanpa sadar.

Kritik dianggap ancaman.
Masukan dianggap serangan.
Perbedaan dianggap musuh.

Padahal sejarah selalu mengajarkan satu hal:
bangsa runtuh bukan karena terlalu banyak kritik,
melainkan karena terlalu sedikit yang mau mendengar.

Saatnya Belajar Diam untuk Mendengar

Mungkin, yang kita butuhkan hari ini bukan lebih banyak suara,
tetapi lebih banyak kesunyian yang jujur.

Diam untuk mendengar.
Diam untuk memahami.
Diam untuk menimbang sebelum bereaksi.

Bukan berarti kita berhenti bersuara.
Tapi kita belajar menempatkan suara pada waktunya.

Karena bangsa yang dewasa bukan bangsa yang paling ribut,
melainkan bangsa yang tahu kapan harus bicara
dan kapan harus mendengar.

Mendengar Adalah Bentuk Cinta pada Bangsa

Jika kita benar-benar mencintai bangsa ini,
kita tidak akan sibuk menjadi yang paling didengar.

Kita akan sibuk memastikan
tak ada suara yang benar-benar diabaikan.

Mendengar bukan tanda kalah.
Ia tanda kedewasaan.

Dan mungkin,
di tengah dunia yang terlalu berisik ini,
mereka yang mau mendengar
adalah harapan terakhir bangsa.

Catatan Editorial OPINI BANGSA

Artikel ini ditulis sebagai refleksi sosial atas budaya komunikasi publik yang semakin bising namun miskin empati. Seluruh pandangan disampaikan tanpa menyebut atau menyudutkan pihak tertentu, sebagai ajakan berpikir bersama.

Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis

DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com

https://www.bangsahebat.com/search/label/FOKUS%20BANGSA
https://www.bangsahebat.com/p/press-release-gerakan-bangsahebatcom.html

Type above and press Enter to search.