BANGSAHEBAT.COM - Rakyat yang Viral, Masalah yang Abadi
Hari ini, penderitaan rakyat tidak pernah benar-benar sunyi.
Ia direkam.
Ia dipotret.
Ia dipotong menjadi video pendek berdurasi 30 detik.
Tangisan seorang ibu, rumah reyot di pinggir sungai, anak kecil yang putus sekolah—semuanya bisa naik ke layar jutaan orang dalam hitungan jam. Kita menontonnya sambil mengangguk, berkomentar bijak, lalu melanjutkan hidup seperti biasa.
Ironisnya, hidup rakyat viral, tapi masalahnya tidak pernah benar-benar selesai.
Di sinilah pertanyaan sederhana muncul:
apakah penderitaan hari ini benar-benar ingin diselesaikan, atau hanya cukup ditonton?
Dari Penderitaan Menjadi Tontonan
Dulu, penderitaan rakyat adalah kabar duka.
Hari ini, penderitaan rakyat adalah konten.
Ada judul yang dibuat dramatis.
Ada musik sedih yang dipasang rapi.
Ada potongan kalimat yang dipilih agar “kena di hati”.
Semua terlihat peduli. Semua tampak empati.
Tapi setelah video itu lewat di layar, setelah komentar “semoga segera dibantu” diketik, lalu apa?
Kita sudah terlalu sering menyaksikan satu pola berulang:
- Video viral
- Simpati membanjir
- Janji-janji berseliweran
- Lalu sunyi
- Masalah kembali ke titik awal
Yang berubah hanya satu hal: jumlah penonton.
Empati Instan di Era Scroll Cepat
Masalah besar hari ini bukan kurangnya empati.
Justru empati kita terlalu cepat.
Kita sedih selama 15 detik.
Kita marah selama satu swipe.
Lalu kita tertawa di konten berikutnya.
Empati menjadi instan, dangkal, dan cepat basi.
Ironisnya, rakyat yang hidup di dalam masalah itu tidak bisa melakukan “scroll ke bawah”.
Kemiskinan tidak punya tombol skip.
Kelaparan tidak mengenal algoritma.
Sementara kita bisa melanjutkan hidup, mereka tetap tinggal di realitas yang sama.
Ketika Simpati Menggantikan Tanggung Jawab
Di era ini, simpati sering dianggap sudah cukup.
Padahal simpati seharusnya awal, bukan akhir.
Banyak yang merasa sudah “berbuat” hanya karena:
- Menonton sampai habis
- Menekan tombol like
- Menulis komentar panjang penuh doa
Padahal, masalah sosial tidak pernah selesai dengan emoji sedih.
Simpati tanpa arah hanya membuat penderitaan terasa “ramai”, tapi tidak pernah ringan bagi yang menjalaninya.
Rakyat tidak butuh ditonton.
Rakyat butuh diselesaikan.
Rakyat Sebagai Objek, Bukan Subjek
Yang paling menyakitkan dari semua ini adalah satu hal:
rakyat sering diperlakukan sebagai objek cerita, bukan subjek perubahan.
Cerita mereka diambil, dikemas, disebarkan.
Tapi suara mereka jarang benar-benar didengar dalam proses solusi.
Mereka muncul di awal video, lalu menghilang di akhir narasi.
Yang tersisa hanyalah cerita, bukan perubahan.
Rakyat akhirnya hanya menjadi latar belakang dramatis untuk membangun citra kepedulian banyak pihak—sementara hidup mereka tetap berjalan di tempat.
Pencitraan Lebih Cepat dari Perbaikan
Kita hidup di zaman di mana pencitraan bergerak lebih cepat daripada perbaikan.
Sebuah kunjungan bisa selesai dalam satu foto.
Sebuah janji bisa viral dalam satu kutipan.
Sebuah masalah bisa “dianggap selesai” hanya karena sudah diliput.
Padahal realitas tidak bekerja seperti itu.
Perut lapar tidak kenyang oleh caption.
Anak putus sekolah tidak kembali belajar karena viral.
Rumah roboh tidak berdiri hanya karena dilihat jutaan mata.
Di sinilah tragedi terbesar:
narasi bergerak, tapi realitas diam.
Humor Getir: Rakyat Jadi Bintang Tamu, Bukan Tuan Rumah
Kadang rasanya lucu—dengan cara yang pahit.
Rakyat seperti bintang tamu di acara mereka sendiri.
Muncul sebentar, lalu dipersilakan turun panggung.
Sementara panggung tetap ramai oleh orang-orang yang membicarakan mereka.
Rakyat dibahas di mana-mana, tapi jarang diajak benar-benar bicara.
Namanya disebut, tapi nasibnya tetap sama.
Ini bukan sekadar soal empati.
Ini soal keberanian untuk bertanggung jawab.
Media Sosial: Alat atau Pelarian?
Media sosial sebenarnya netral.
Ia bisa menjadi alat perubahan, atau sekadar pelarian.
Masalahnya bukan pada kameranya, tapi pada niat di balik lensa.
Apakah penderitaan direkam untuk membuka jalan solusi?
Ataukah hanya untuk memastikan tidak tertinggal momen?
Ketika dokumentasi berhenti di unggahan, di situlah masalah bermula.
Rakyat Tidak Butuh Viral, Rakyat Butuh Arah
Rakyat tidak pernah meminta hidupnya viral.
Mereka hanya ingin hidupnya layak.
Yang mereka butuhkan bukan sorotan, tapi kejelasan.
Bukan komentar, tapi keberlanjutan.
Bukan janji, tapi kehadiran nyata.
Jika penderitaan terus dijadikan tontonan, sementara solusi hanya jadi wacana, maka kita sedang membangun satu generasi yang pandai menonton, tapi gagap bertindak.
Refleksi Bangsa: Jangan Jadikan Derita Sebagai Hiburan
Sebagai bangsa, kita perlu jujur bertanya pada diri sendiri:
apakah kita sedang membantu, atau hanya menikmati drama sosial?
Karena ketika derita sudah terasa biasa ditonton, empati pelan-pelan berubah menjadi hiburan.
Dan saat itu terjadi, kita bukan lagi bagian dari solusi—kita bagian dari masalah.
Dari Konten Menuju Komitmen
Merekam penderitaan tidak salah.
Menyebarkannya juga tidak selalu keliru.
Yang keliru adalah berhenti di sana.
Sudah saatnya kita berhenti menjadikan hidup rakyat sekadar konten.
Sudah waktunya penderitaan menjadi alarm tanggung jawab, bukan hiburan kolektif.
Karena pada akhirnya, bangsa yang besar bukan diukur dari seberapa sering ia menonton penderitaan rakyatnya,
melainkan dari seberapa serius ia mengakhiri penderitaan itu.
.png)



Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis
DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com