TUroTUr5TpA6TUO7BSM0TfG0Ti==

Kenapa Kita Sering Marah di Media Sosial, Padahal Sebenarnya Tidak Tahu Apa Masalah Sebenarnya?


BANGSAHEBAT.COM
 - Sonya mengajak kita masuk ke satu ruang yang paling sering kita kunjungi setiap hari: linimasa.

Tempat orang marah, tersinggung, dan bereaksi cepat — sering kali tanpa tahu duduk persoalannya.

Pagi Ini, Linimasa Tidak Baik-Baik Saja

Pagi belum sepenuhnya bangun, tapi emosi sudah duluan aktif.
Satu unggahan muncul. Lalu komentar. Lalu balasan.
Nada suara meninggi — meski tidak ada suara.

Sonya berdiri di tengah linimasa itu.
Melihat orang-orang saling menyerang, membela, menyimpulkan, bahkan menghakimi.
Masalahnya satu: banyak yang marah, tapi sedikit yang benar-benar paham.

Dan ini bukan kejadian langka.
Ini rutinitas.

“Hai kamu.
Iya, kamu yang barusan ngerasa kesel pas baca satu postingan,
tapi belum sempat baca sampai habis.
Tenang… kamu nggak sendirian.”

Sonya juga pernah ada di posisi itu.

Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Media sosial dirancang untuk cepat, bukan untuk dalam.
Algoritma tidak menunggu kita berpikir. Ia menunggu kita bereaksi.

Dalam banyak kasus, yang kita lihat hanyalah:

  • Potongan video 15–30 detik
  • Kutipan tanpa konteks
  • Judul provokatif tanpa penjelasan

Sementara masalah aslinya sering kali:

  • Panjang
  • Rumit
  • Penuh latar belakang
  • Tidak hitam-putih

Namun emosi kita sudah keburu sampai tujuan,
padahal informasinya baru berangkat.

Kenapa Ini Penting Buat Kita?

Karena kemarahan yang salah sasaran tidak berhenti di layar.

Ia ikut:

  • Terbawa ke obrolan sehari-hari
  • Merusak cara kita memandang orang lain
  • Membentuk opini tanpa fondasi

Sonya melihat satu pola yang berulang:
kita bukan cuma marah pada isi,
tapi pada perasaan kita sendiri yang terus ditekan.

Media sosial lalu menjadi tempat pelampiasan paling mudah.

Kata Data & Para Ahli

Beberapa studi psikologi digital menunjukkan bahwa:

  • Otak manusia bereaksi lebih cepat terhadap konten bernada negatif
  • Emosi marah meningkatkan interaksi (like, share, komentar)
  • Algoritma kemudian menganggap konten itu “menarik”

Artinya apa?

Semakin marah kita,
semakin sering kita disuguhi hal-hal yang bikin kita…
makin marah lagi.

Sebuah lingkaran.

Dialog Kecil di Kepala Kita (Ala Sonya)

Netizen: “Ini jelas salah! Gila!”
Sonya: “Kamu baca sampai habis?”
Netizen: “Belum, tapi kelihatan kok.”
Fakta: “Sebenarnya ceritanya agak beda…”
Netizen: “Lah?”

Di sinilah banyak konflik dimulai.
Bukan karena niat jahat,
tapi karena reaksi yang terlalu cepat.

Jadi, Kita Mau ke Mana?

Sonya tidak sedang bilang kita harus diam.
Bukan juga menyuruh kita apatis.

Tapi mungkin, sebelum marah, kita bisa:

  • Bertanya: “Apa konteksnya?”
  • Menahan jempol 10 detik
  • Membaca lebih dari satu sumber

Karena kadang, yang kita lawan bukan masalahnya,
tapi versi masalah yang belum lengkap.

Marah Itu Manusiawi, Paham Itu Pilihan

Sonya menutup satu tab linimasa hari ini dengan satu kesimpulan kecil:
marah itu wajar.
Tapi memahami — itu butuh usaha.

Di dunia yang serba cepat,
memilih untuk pelan adalah bentuk keberanian.

Kalau kamu pernah marah di media sosial,
lalu sadar belakangan bahwa ceritanya tidak sesederhana itu,
berarti kamu sedang belajar.

Dan itu sudah langkah maju.

Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis

DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com

https://www.bangsahebat.com/search/label/FOKUS%20BANGSA
https://www.bangsahebat.com/p/press-release-gerakan-bangsahebatcom.html

Type above and press Enter to search.