BANGSAHEBAT.COM - Banjir Datang, Kayu Ikut Mengalir
Banjir di Sumatera kembali datang.
Air naik, rumah tenggelam, sawah hilang, dan jalan berubah jadi sungai dadakan.
Tapi ada satu pemandangan yang terus berulang dan sulit dijelaskan sebagai kebetulan:
kayu-kayu gelondongan ikut hanyut bersama banjir.
Kayu besar. Berat. Rapi. Seperti baru saja dilepas dari pelukannya—hutan.
Dan di titik ini, banjir tak lagi sekadar cerita tentang hujan deras.
Ia berubah menjadi cerita tentang sesuatu yang pernah berdiri, lalu ditebang, dan kini kembali dalam bentuk bencana.
Hujan Itu Alasan, Tapi Bukan Jawaban
Setiap banjir selalu punya alasan yang sama: hujan lebat.
Padahal hujan adalah tamu lama di negeri tropis ini.
Yang berubah bukan hujannya.
Yang berubah adalah tanahnya.
Tanah yang dulu menyerap, kini memantulkan.
Hutan yang dulu menahan, kini menghilang.
Akar yang dulu memeluk bumi, kini hanya tinggal bekas.
Ketika kayu-kayu gelondongan ikut hanyut, itu bukan tanda hujan berlebihan.
Itu tanda alam sudah kehilangan penyangga.
Kayu yang Pernah Diam, Kini Berteriak
Kayu gelondongan sejatinya benda mati.
Tapi saat ia mengalir di tengah banjir, rasanya seperti sedang berteriak.
Ia berkata:
“Aku dulu berdiri.
Aku menahan air.
Aku menenangkan tanah.
Sekarang aku dilepas, dan lihat akibatnya.”
Ironisnya, kayu itu tidak datang sendiri.
Ia membawa lumpur, reruntuhan, dan trauma.
Yang dulu ditebang diam-diam, kini kembali tanpa bisa dicegah.
Rakyat Selalu di Hilir Masalah
Dalam setiap cerita kerusakan alam, ada satu pola yang tidak pernah berubah:
rakyat selalu berada di hilir.
Mereka tidak menebang.
Mereka tidak mengangkut.
Mereka tidak menikmati hasil besar.
Tapi merekalah yang:
- Rumahnya pertama kali tenggelam
- Ladangnya pertama kali hilang
- Anak-anaknya pertama kali mengungsi
Kayu mungkin mengalir dari hulu,
tapi penderitaan selalu berhenti di rumah rakyat kecil.
Banjir Bukan Bencana Alam, Tapi Alarm Moral
Kita terlalu sering menyebut ini “bencana alam”.
Padahal alam tidak pernah berniat mencelakai.
Alam hanya merespons perlakuan manusia.
Banjir hari ini lebih mirip alarm moral.
Ia mengingatkan bahwa ada batas yang dilanggar.
Ada keserakahan yang dilepas tanpa rem.
Ada logika ekonomi yang lupa logika kehidupan.
Ketika kayu-kayu besar bisa meluncur bebas di sungai, itu artinya:
bukan hanya hutan yang gundul,
tapi nurani juga ikut tipis.
Humor Getir: Kayu Lebih Dulu Pulang daripada Janji
Yang lucu—atau lebih tepatnya pahit—
kayu-kayu itu bisa pulang lebih cepat daripada janji-janji perbaikan.
Kayu sudah sampai ke desa.
Air sudah sampai ke atap.
Tapi solusi sering masih tersangkut di kata “akan”.
Rakyat sudah mengungsi.
Alam sudah marah.
Tapi pembenahan masih sibuk cari alasan.
Seolah-olah kayu lebih jujur dari manusia.
Ia menunjukkan dampaknya secara nyata.
Jangan Jadikan Banjir sebagai Rutinitas
Yang paling berbahaya bukan banjir itu sendiri,
tapi ketika banjir mulai dianggap biasa.
Ketika berita banjir lewat seperti cuaca.
Ketika kayu hanyut dianggap pemandangan musiman.
Ketika korban hanya jadi angka.
Saat itulah kita sedang membiarkan kerusakan jadi rutinitas nasional.
Padahal setiap banjir adalah peringatan terakhir yang terus diulang.
Refleksi Bangsa: Hutan Tidak Pernah Membalas, Tapi Mengingat
Hutan tidak pernah protes.
Ia tidak demo.
Ia tidak menuntut.
Ia hanya mengingat.
Dan suatu hari, ingatan itu turun bersama air.
Kayu-kayu gelondongan di banjir Sumatera bukan sekadar material hanyut.
Ia adalah arsip kesalahan yang kembali ke permukaan.
Jika Alam Sudah Bicara, Kita Masih Mau Diam?
Kita boleh berdebat soal cuaca.
Kita boleh berdalih soal musim.
Tapi ketika kayu dari hulu ikut menyapu rumah di hilir,
itu bukan lagi kebetulan.
Itu pesan.
Dan pertanyaannya sekarang sederhana:
apakah kita masih mau pura-pura tidak mendengar,
atau akhirnya belajar sebelum banjir berikutnya datang lebih tinggi?
Karena alam tidak pernah dendam.
Ia hanya mengembalikan apa yang pernah kita ambil—
dengan cara yang tidak bisa kita negosiasikan.
.png)



Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis
DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com