BANGSAHEBAT.COM - Kenapa Jaket Kulit Bisa Lebih Meyakinkan daripada Seribu Janji Politik?
Ada satu pemandangan yang sering kita lihat tapi jarang kita sadari secara serius. Seorang tokoh politik berdiri di depan publik, tidak selalu dengan jas mahal atau batik resmi, melainkan jaket kulit. Hitam, cokelat tua, sedikit kusam, kadang terlihat “bekas medan”.
Dan anehnya, sebagian rakyat langsung berpikir:
“Wah ini tegas.”
“Kayaknya berani.”
“Kelihatannya bukan politikus biasa.”
Padahal… yang berubah hanya bajunya.
Di sinilah ilmu politik jaket kulit bekerja. Dan di sinilah KORENYA mengajak kita menyelam lebih dalam: bagaimana sepotong busana bisa memproduksi makna kekuasaan, legitimasi, bahkan rasa percaya.
KORENYA di Balik Jaket Kulit
KORENYA pernah duduk di sebuah ruangan diskusi kecil. Tidak ada podium. Tidak ada baliho. Hanya kopi panas, asbak penuh puntung rokok, dan obrolan yang berat tapi jujur.
Di sudut ruangan, seorang tokoh datang. Tidak membawa map tebal, tidak juga staf berderet. Yang mencolok hanya satu: jaket kulit tua yang melekat di tubuhnya.
Tanpa sadar, suasana berubah.
Nada bicara orang-orang jadi lebih hati-hati. Tatapan lebih fokus. Bahkan sebelum orang itu berbicara, otoritas sudah hadir lebih dulu lewat pakaian.
KORENYA menatap itu sambil berpikir:
“Sejak kapan politik dimulai dari lemari pakaian?”
Jaket Kulit dalam Sejarah Kekuasaan
Jaket kulit bukan busana netral. Dalam sejarah global, ia selalu membawa simbol tertentu:
- Dipakai pilot tempur dan tentara garis depan
- Dipakai aktivis jalanan dan pejuang perlawanan
- Dipakai biker, pekerja kasar, hingga tokoh anti-kemapanan
Dalam konteks politik, jaket kulit sering berarti:
- Keberanian
- Ketegasan
- Kedekatan dengan jalanan
- Anti-elit, meski sering dipakai elit
Berbeda dengan jas yang melambangkan birokrasi dan jarak, jaket kulit memberi ilusi:
“Saya salah satu dari kalian.”
Padahal belum tentu.
Psikologi Politik: Kenapa Otak Kita Percaya Jaket Kulit?
Ilmu psikologi politik menjelaskan satu hal penting:
Manusia menilai sebelum berpikir.
Otak kita memproses visual jauh lebih cepat daripada kata-kata. Dalam hitungan detik, sebelum pidato dimulai, publik sudah membuat kesimpulan awal.
Jaket kulit mengaktifkan beberapa persepsi bawah sadar:
- Figur kuat dan tahan banting
- Siap konflik, bukan sekadar kompromi
- Lebih “asli” daripada politisi berjas
KORENYA menyebut ini sebagai:
politik impresi instan
Isinya bisa kosong, tapi kemasannya sudah meyakinkan.
Dari Aktivis ke Elite: Jaket Kulit yang Berganti Makna
Menariknya, jaket kulit sering dipakai oleh:
- Mantan aktivis
- Politisi populis
- Tokoh yang ingin terlihat “keras tapi merakyat”
Namun di sinilah ironi terjadi.
Saat jaket kulit yang dulu simbol perlawanan, kini:
- Duduk di ruang ber-AC
- Menandatangani kebijakan elitis
- Mengawal kepentingan modal
Simbol tetap sama, tapi makna berpindah tangan.
KORENYA mencatat:
“Yang berubah bukan jaketnya, tapi siapa yang dilindungi olehnya.”
Ilusi Kedekatan: Politik yang Terasa Dekat tapi Tetap Jauh
Jaket kulit menciptakan kesan:
- Dekat dengan rakyat kecil
- Tidak kaku
- Bukan politikus salon
Namun dalam praktik:
- Kebijakan tetap tidak menyentuh akar
- Rakyat hanya didekati secara simbolik
- Keputusan tetap diambil di ruang tertutup
Ini yang disebut kedekatan visual, tapi jarak struktural.
KORENYA sering mengingatkan:
“Kalau politik cuma soal tampilan, rakyat hanya jadi penonton fashion show kekuasaan.”
Jaket Kulit vs Batik: Pertarungan Simbol yang Sunyi
Di Indonesia, batik sering diasosiasikan dengan:
- Formalitas
- Negara
- Tradisi
- Stabilitas
Sementara jaket kulit membawa kesan:
- Perubahan
- Keberanian
- Gerakan
- Ketegasan
Saat politisi memilih jaket kulit, itu bukan soal selera. Itu strategi komunikasi politik.
Pesannya jelas:
“Saya tidak terikat tradisi lama. Saya siap ‘berbeda’.”
Walau kenyataannya… kebijakan masih sama.
Media dan Kamera: Jaket Kulit Sangat Fotogenik
Media visual mencintai jaket kulit karena:
- Kontras kuat di kamera
- Memberi kesan dramatis
- Mudah dijadikan ikon
Satu foto jaket kulit bisa viral lebih cepat daripada naskah kebijakan 100 halaman.
Di era politik digital:
- Penampilan = konten
- Konten = persepsi
- Persepsi = suara
KORENYA menyebut ini:
demokrasi yang dikurasi oleh kamera
Bahaya Politik Simbol Tanpa Substansi
Masalahnya bukan pada jaket kulitnya. Masalahnya ketika:
- Simbol menggantikan isi
- Gaya menutupi kegagalan
- Citra mengalahkan tanggung jawab
Saat rakyat sibuk mengomentari:
“Wah, kelihatan tegas ya.”
Padahal yang perlu ditanya:
- Kebijakannya untuk siapa?
- Siapa yang diuntungkan?
- Siapa yang dikorbankan?
KORENYA menghela napas:
“Negara tidak runtuh karena jaket kulit, tapi karena rakyat berhenti bertanya.”
Studi Fenomena: Jaket Kulit di Lapangan Kekuasaan
Tanpa menyebut nama, kita bisa melihat pola:
- Jaket kulit dipakai saat konflik sosial
- Jaket kulit muncul saat krisis legitimasi
- Jaket kulit hadir saat kepercayaan publik menurun
Ini bukan kebetulan.
Jaket kulit sering muncul saat:
- Kekuasaan butuh terlihat tegas
- Negara butuh simbol kontrol
- Pemimpin ingin terlihat “hadir”
Meski kehadirannya sering hanya visual.
Refleksi KORENYA: Politik Tidak Pernah Telanjang
KORENYA menulis dalam catatannya:
“Politik tidak pernah telanjang. Ia selalu memakai kostum. Pertanyaannya, apakah kita masih bisa melihat tubuh kebenarannya?”
Jaket kulit hanyalah satu dari sekian banyak kostum kekuasaan:
- Ada yang memakai bahasa agama
- Ada yang memakai jargon kerakyatan
- Ada yang memakai kesederhanaan palsu
Semua sah dalam demokrasi.
Yang tidak sehat adalah rakyat yang berhenti kritis karena terpesona simbol.
Pesan Moral: Jangan Terkecoh oleh Jaket, Dengarkan Kebijakan
Artikel ini bukan ajakan membenci jaket kulit.
Ini ajakan untuk membaca politik lebih dalam.
Karena negara yang dewasa:
- Menilai kebijakan, bukan busana
- Menguji janji, bukan gaya
- Menghargai kerja, bukan kostum
KORENYA menutup dengan kalimat sederhana:
“Jaket bisa dilepas kapan saja. Tapi dampak kebijakan melekat lama di hidup rakyat.”
Saatnya Rakyat Naik Level
Ilmu politik jaket kulit mengajarkan kita satu hal penting:
Demokrasi tidak boleh kalah oleh estetika.
Selama rakyat masih lebih terpesona oleh tampilan daripada isi,
selama itu pula kekuasaan akan terus bermain simbol.
Dan tugas kita bukan melarang simbol,
melainkan menolak untuk dibutakan olehnya.
Karena politik sejati bukan soal apa yang dipakai,
melainkan apa yang diperjuangkan.
.png)


Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis
DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com