BANGSAHEBAT.COM - ILMU POLITIK BAMBANG PACUL: Ketika Kekuasaan Lebih Sering Terpeleset oleh Kesombongan daripada Dijatuhkan Lawan.
Politik Tidak Selalu Dijatuhkan, Seringnya Terpeleset
Kalau kamu pikir kekuasaan selalu tumbang karena serangan lawan politik, kudeta, atau skandal besar, mungkin kamu perlu duduk sebentar. Tarik napas. Dan dengarkan cerita kecil ini.
KORENYA pernah melihat seseorang yang sudah sangat kuat. Punya jabatan. Punya pengaruh. Punya panggung. Tapi suatu hari, dia terpeleset oleh ucapannya sendiri, oleh sikapnya sendiri, oleh caranya sendiri memandang orang lain.
Tidak ada yang mendorong.
Tidak ada yang menjatuhkan.
Dia jatuh sendiri.
Di situlah KORENYA menyebut satu istilah yang mungkin terdengar jenaka, tapi sebenarnya sangat serius dalam ilmu politik sehari-hari:
BAMBANG PACUL.
Bukan nama orang.
Bukan tokoh.
Tapi sebuah singkatan Ilmu Politik yang sering terjadi, tapi jarang disadari.
Apa Itu Ilmu Politik BAMBANG PACUL?
BAMBANG PACUL adalah singkatan dari:
Berasa
Aman
Meremehkan
Batas
Akal
Nurani
Gagal
dan akhirnya
PACUL
Publik
Amurah
Citra
Umumnya
Lenyap
Dalam bahasa sederhana:
ketika seseorang di kekuasaan merasa terlalu aman, lalu mulai meremehkan batas akal dan nurani, hingga akhirnya gagal menjaga citra di mata publik.
Dan saat itu terjadi, kekuasaan tidak runtuh dengan ledakan —
ia menghilang perlahan, seperti debu yang tertiup angin.
B: Berasa Aman — Awal dari Semua Kesalahan Politik
Dalam ilmu politik klasik, rasa aman adalah kebutuhan.
Tapi dalam ilmu politik sehari-hari, terlalu berasa aman adalah awal petaka.
Saat seorang aktor politik mulai berpikir:
- “Aku sudah kuat”
- “Aku sudah besar”
- “Rakyat pasti paham”
- “Netizen ribut sebentar doang”
Di situlah proses BAMBANG dimulai.
Rasa aman membuat kewaspadaan tumpul.
Dan politik tanpa kewaspadaan adalah undangan terbuka untuk kesalahan.
A: Merasa Aman → Mulai Meremehkan
Ketika rasa aman sudah menetap, langkah berikutnya hampir selalu sama: meremehkan.
Meremehkan siapa?
- Meremehkan kritik
- Meremehkan perasaan publik
- Meremehkan simbol
- Meremehkan bahasa tubuh
- Meremehkan timing
Padahal dalam politik, yang sepele bagi elite bisa menjadi luka besar bagi rakyat.
KORENYA sering bilang:
“Politik bukan soal niat, tapi soal dampak.”
M: Meremehkan Batas — Saat Etika Mulai Dianggap Opsional
Di fase ini, seorang aktor politik mulai bermain di area abu-abu:
- Bercanda di saat yang salah
- Bicara santai tentang hal sensitif
- Menganggap etika sebagai penghambat
- Mengira publik bisa ‘diajak maklum’
Padahal politik punya garis tak kasat mata yang disebut batas akal dan nurani.
Sekali batas ini dilangkahi, publik mungkin tidak langsung marah.
Tapi mereka mencatat.
Dan ingatan publik itu panjang.
B: Batas Akal — Ketika Logika Publik Diabaikan
Ilmu politik tidak hidup di ruang rapat.
Ia hidup di kepala rakyat.
Saat kebijakan, pernyataan, atau sikap:
- Tidak masuk akal
- Tidak nyambung dengan realitas
- Terasa memihak
- Terlihat arogan
Maka bukan hanya kebijakan yang dipertanyakan,
tapi kewarasan politiknya.
Dan di titik ini, kepercayaan mulai bocor perlahan.
A: Akal Kalah oleh Ego
Banyak kekuasaan runtuh bukan karena lawan kuat, tapi karena ego sendiri.
Ego membuat:
- Kritik dianggap serangan
- Saran dianggap ancaman
- Rakyat dianggap belum paham
- Kekuasaan dianggap milik pribadi
Padahal dalam demokrasi, kekuasaan itu titipan, bukan warisan.
N: Nurani — Bagian yang Sering Dilupakan
Ilmu politik modern sering bicara data, survei, elektabilitas.
Tapi nurani jarang masuk slide presentasi.
Saat nurani ditinggalkan:
- Kebijakan jadi dingin
- Bahasa jadi kasar
- Empati jadi mahal
- Kemanusiaan jadi sekadar jargon
Publik mungkin tidak bisa menjelaskan secara akademis,
tapi mereka merasakan saat nurani hilang.
G: Gagal — Bukan Seketika, Tapi Bertahap
Kegagalan dalam BAMBANG PACUL tidak datang tiba-tiba.
Ia datang seperti ini:
- Dipertanyakan
- Diragukan
- Dijauhi
- Diabaikan
- Dilupakan
Dan bagi politikus, dilupakan lebih menakutkan daripada dimusuhi.
PACUL: Ketika Publik Mengamuk, Citra Umumnya Lenyap
Masuk fase PACUL.
P — Publik
Publik bukan bodoh.
Mereka diam bukan berarti setuju.
A — Amarah
Amarah publik tidak selalu meledak.
Kadang ia hanya berubah menjadi sikap dingin.
C — Citra
Citra yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh oleh satu momen yang salah.
U — Umumnya
Bukan segelintir.
Bukan buzzer.
Tapi persepsi umum.
L — Lenyap
Bukan diturunkan.
Bukan dijatuhkan.
Tapi lenyap pelan-pelan dari percakapan publik.
Mengapa Ilmu Politik BAMBANG PACUL Penting Dipahami?
Karena ini bukan teori kampus.
Ini realitas politik sehari-hari.
Ia terjadi:
- Di pusat kekuasaan
- Di daerah
- Di organisasi
- Di partai
- Bahkan di komunitas kecil
BAMBANG PACUL mengajarkan satu hal penting:
Kekuasaan paling sering rusak bukan oleh musuh, tapi oleh rasa aman yang berlebihan.
Pelajaran Politik yang Damai dari BAMBANG PACUL
KORENYA menutup catatannya dengan beberapa pelajaran:
- Rasa aman perlu, tapi jangan mabuk
- Etika bukan penghambat, tapi pelindung
- Nurani adalah aset politik paling mahal
- Publik memaafkan, tapi tidak lupa
- Kekuasaan yang rendah hati lebih awet daripada yang merasa kebal
Jangan Jadi Bambang, Jangan Sampai Dipacul
Ilmu Politik BAMBANG PACUL bukan untuk menertawakan siapa pun.
Ia adalah cermin.
Cermin bahwa dalam politik:
- Yang merasa paling aman, sering paling rawan
- Yang paling tinggi, paling mudah terpeleset
- Yang lupa nurani, cepat kehilangan legitimasi
Dan seperti yang sering KORENYA katakan sambil menatap jalan panjang demokrasi:
“Dalam politik, jatuh itu biasa.
Tapi terpeleset karena kesombongan, itu memalukan.”
.png)


Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis
DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com