BANGSAHEBAT.COM - Setiap kali kasus besar mencuat, publik marah. Media ramai. Media sosial penuh amarah. Namun anehnya, beberapa bulan kemudian, kasus yang sama seolah menguap tanpa kabar. Dialog RBR kali ini membedah fenomena hukum yang heboh di awal tapi sunyi di akhir, serta mengapa lupa publik menjadi senjata paling ampuh dalam meredam keadilan.
Dialog RBR
Rama:
Mas Bono, aku mau tanya jujur. Kenapa sih setiap ada kasus besar, awalnya ribut luar biasa, tapi ujung-ujungnya… hilang?
Bono:
Karena, Ram, hukum itu bukan hanya soal benar atau salah. Ia juga soal daya tahan ingatan publik.
Ranti:
Maksud Mas Bono, hukum bisa kalah sama lupa?
Bono:
Bukan bisa, Ranti. Seringkali memang kalah.
Rama:
Tapi kan kalau salah, ya harus diproses sampai tuntas?
Bono:
Secara ideal, iya. Tapi realitas sosial tidak berjalan seideal buku hukum.
1. Ledakan di Awal: Marah yang Serentak
Ranti:
Kenapa ya, setiap awal kasus, semua orang marah bersamaan?
Bono:
Karena publik bereaksi terhadap kejutan. Judul besar, angka besar, tokoh besar.
Rama:
Media juga ikut mendorong kan?
Bono:
Media hidup dari momentum. Dan momentum itu pendek.
Ranti:
Jadi marahnya cepat, tapi dangkal?
Bono:
Bukan dangkal. Tapi tidak dirawat.
2. Publik Tidak Lupa, Tapi Lelah
Rama:
Aku sering dengar orang bilang, “Ah, kasus itu lagi.” Padahal belum selesai.
Bono:
Itu bukan lupa, Ram. Itu lelah.
Ranti:
Capek marah?
Bono:
Capek berharap. Karena harapan yang tidak kunjung bertemu hasil akan berubah jadi apatis.
Rama:
Berarti yang menang bukan kebenaran?
Bono:
Yang menang adalah waktu.
3. Waktu sebagai Senjata Sunyi
Ranti:
Kenapa waktu jadi senjata?
Bono:
Karena waktu tidak terlihat bekerja. Ia tidak menyerang, tapi mengikis.
Rama:
Dengan cara menunda?
Bono:
Dengan cara menunggu. Menunggu isu baru. Menunggu publik sibuk. Menunggu perhatian berpindah.
Ranti:
Dan publik memang gampang pindah fokus.
Bono:
Karena hidup mereka penuh masalah lain yang lebih dekat.
4. Banjir Isu: Strategi Tanpa Tangan
Rama:
Kadang aku merasa, kok pas satu kasus mulai redup, muncul isu besar lain?
Bono:
Itu hukum perhatian. Bukan selalu konspirasi, tapi sistem informasi memang begitu.
Ranti:
Jadi kasus lama tenggelam oleh kasus baru?
Bono:
Tepat. Keadilan tenggelam bukan karena dilawan, tapi karena ditumpuk.
Rama:
Ditumpuk sampai tak terlihat.
5. Media Sosial: Api yang Cepat Padam
Ranti:
Padahal di media sosial, orang paling vokal.
Bono:
Justru itu masalahnya. Media sosial menyukai emosi, bukan proses.
Rama:
Orang lebih suka marah daripada menunggu?
Bono:
Karena menunggu itu membosankan, sedangkan marah itu instan.
Ranti:
Like dan share tidak butuh kesabaran.
Bono:
Tapi keadilan butuh waktu panjang.
6. Ketika Tidak Ada Kepastian, Publik Pergi
Rama:
Kalau tidak ada kabar lanjutan, publik harusnya menuntut dong?
Bono:
Publik menuntut jika merasa suaranya didengar.
Ranti:
Kalau tidak?
Bono:
Mereka pergi. Diam. Sibuk dengan hidup masing-masing.
Rama:
Dan diam publik itu berbahaya.
Bono:
Diam yang panjang adalah tanda menyerah.
7. Narasi “Masih Proses” yang Tak Berujung
Ranti:
Aku sering dengar kalimat, “Masih dalam proses.”
Bono:
Kalimat paling aman dan paling melelahkan.
Rama:
Karena tidak salah, tapi juga tidak selesai.
Bono:
Betul. Dan publik jarang punya energi untuk menunggu tanpa kepastian.
8. Hukum yang Pelan vs Dunia yang Cepat
Rama:
Apa salah hukum yang jalannya lambat?
Bono:
Tidak salah. Tapi ia hidup di dunia yang terlalu cepat.
Ranti:
Dunia yang maunya hasil sekarang?
Bono:
Ya. Dan di situlah keadilan sering kalah bukan oleh kekuasaan, tapi oleh ritme zaman.
Refleksi Akhir
Rama:
Mas Bono, kalau begitu, apa peran kita sebagai masyarakat?
Bono:
Menjaga ingatan.
Ranti:
Sesederhana itu?
Bono:
Sesulit itu. Karena ingatan butuh disiplin.
Rama:
Berarti keadilan tidak mati…
Bono:
Ia hanya tertidur saat kita berhenti mengingat.
Ranti:
Dan yang paling diuntungkan…
Bono:
Bukan mereka yang kuat. Tapi mereka yang sabar menunggu lupa.
Rama:
Berarti melawan lupa itu bentuk perlawanan?
Bono:
Itu bentuk keadilan paling dasar yang bisa dilakukan rakyat.
Dialog RBR ini membahas mengapa banyak kasus besar ramai di awal namun sepi di akhir. Penyebabnya bukan semata hukum yang lemah, melainkan kelelahan publik, banjir isu, ritme media sosial, dan kekuatan waktu yang mengikis perhatian. Pesan utama dialog ini adalah: lupa publik adalah kemenangan terbesar bagi ketidakadilan.
.png)


Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis
DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com