TUroTUr5TpA6TUO7BSM0TfG0Ti==

HOAKS, UANG SITAAN, DAN PERANG PERSEPSI DI NEGERI INI


BANGSAHEBAT.COM
 - Isu hoaks kembali mengguncang ruang publik Indonesia. Kali ini, beredar narasi di media sosial yang menyebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai “mastermind” di balik pengelolaan uang sitaan hasil korupsi. 

Kementerian Keuangan secara resmi menegaskan bahwa informasi tersebut adalah hoaks dan menyesatkan. Dalam dialog RBR kali ini, Rama, Bono, dan Ranti membedah isu tersebut dari sudut pandang kritis, sederhana, dan reflektif—tentang hoaks, literasi publik, serta perang persepsi di era digital.

Dialog RBR

Rama:
Aku tuh heran, Bon. Sekarang ini berita kok rasanya makin liar ya. Baru buka media sosial, langsung ketemu video yang bilang Menteri Keuangan itu “mastermind” uang sitaan korupsi.

Bono:
Itu bukan sekadar liar, Ram. Itu contoh klasik bagaimana narasi dibangun bukan untuk memberi informasi, tapi untuk memancing emosi. Kata “mastermind” itu berat sekali, penuh asumsi, dan sangat politis.

Ranti:
Aku jujur awalnya sempat bingung. Maksudnya “mastermind” itu apa sih? Kayak dalang besar gitu? Tapi kok bisa langsung percaya tanpa bukti yang jelas?

Rama:
Nah, itu yang bikin aku kepikiran. Banyak orang langsung percaya karena videonya diedit rapi, pakai musik serius, teksnya tegas. Seolah-olah itu hasil investigasi mendalam.

Bono:
Padahal Kemenkeu sudah menjelaskan secara resmi bahwa narasi itu hoaks. Tidak ada peran seperti yang dituduhkan. Tapi klarifikasi sering kalah cepat dibanding fitnah.

Ranti:
Kenapa ya orang lebih cepat percaya yang buruk dibanding penjelasan resmi?

Bono:
Karena hoaks biasanya datang membawa emosi: marah, curiga, kecewa. Klarifikasi datang membawa logika. Dan sayangnya, di era digital, emosi sering lebih laku.

Rama:
Aku jadi mikir, apa masyarakat kita sudah capek sama kasus korupsi, sampai akhirnya apa pun yang terdengar “membongkar rahasia besar” langsung dipercaya?

Bono:
Itu tepat sekali. Kejenuhan publik terhadap korupsi membuat banyak orang kehilangan jarak kritis. Semua pejabat dianggap sama, semua institusi dicurigai. Di situlah hoaks tumbuh subur.

Ranti:
Tapi kan sebenarnya, pengelolaan uang sitaan itu ada mekanismenya. Bukan dipegang satu orang saja.

Bono:
Betul. Uang sitaan hasil korupsi itu prosesnya panjang. Ada aparat penegak hukum, putusan pengadilan, lalu disetorkan ke kas negara sesuai aturan. Menteri Keuangan tidak bisa seenaknya “mengendalikan” uang itu secara personal.

Rama:
Masalahnya, narasi hoaks jarang mau menjelaskan proses. Mereka cuma butuh tokoh untuk dijadikan simbol.

Ranti:
Jadi kayak butuh “penjahat utama” gitu ya?

Bono:
Iya. Dalam cerita hoaks, selalu ada tokoh antagonis. Semakin tinggi jabatannya, semakin laku ceritanya.

Rama:
Yang bahaya, kalau ini dibiarkan, publik bisa kehilangan kepercayaan total. Padahal kepercayaan itu penting buat stabilitas negara.

Bono:
Dan hoaks seperti ini bukan cuma menyerang individu, tapi menyerang sistem. Keuangan negara itu urusan sensitif. Kalau persepsinya rusak, dampaknya panjang.

Ranti:
Aku kadang mikir, apa yang menyebarkan hoaks itu sadar dampaknya? Atau cuma kejar viral?

Bono:
Ada dua kemungkinan: ada yang polos tapi malas cek fakta, ada juga yang memang sengaja membangun opini. Kita tidak bisa naif.

Rama:
Berarti tanggung jawab kita sebagai warga bukan cuma konsumsi berita, tapi juga menyaring.

Ranti:
Iya… aku sekarang jadi mikir dua kali sebelum share apa pun. Takut malah ikut nyebarin yang salah.

Bono:
Itu sikap dewasa. Literasi media itu bukan soal pintar teknologi, tapi soal sabar berpikir.

Rama:
Dan pemerintah juga sebenarnya perlu terus terbuka, menjelaskan dengan bahasa yang mudah. Jangan cuma rilis resmi yang kaku.

Bono:
Setuju. Di era TikTok, klarifikasi juga harus adaptif. Kalau hoaks pakai video pendek, klarifikasi jangan cuma pakai teks panjang.

Ranti:
Jadi ini bukan cuma perang informasi, tapi perang cara bercerita ya?

Bono:
Tepat sekali, Ranti. Siapa yang paling pandai bercerita, dia yang didengar.

Rama:
Dan semoga ke depan, kita sebagai masyarakat lebih tenang. Nggak gampang terpancing judul bombastis.

Ranti:
Soalnya capek juga hidup di tengah keributan yang ternyata cuma salah paham.

Bono:
Negeri ini tidak kekurangan masalah nyata. Jadi jangan ditambah dengan masalah palsu.

Dialog RBR ini mengulas klarifikasi Kementerian Keuangan yang menegaskan bahwa isu penyebutan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai “mastermind” uang sitaan korupsi adalah hoaks. Melalui percakapan Rama, Bono, dan Ranti, dialog ini menyoroti bahaya hoaks, pentingnya literasi media, serta bagaimana perang persepsi di era digital dapat merusak kepercayaan publik jika tidak disikapi dengan kepala dingin dan nalar kritis.

Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis

DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com

https://www.bangsahebat.com/search/label/FOKUS%20BANGSA
https://www.bangsahebat.com/p/press-release-gerakan-bangsahebatcom.html

Type above and press Enter to search.