TUroTUr5TpA6TUO7BSM0TfG0Ti==

Hantu Gundul Bertaring Panjang: Ia Tidak Memiliki Rambut, Tapi Mengingat Semua Namamu


BANGSAHEBAT.COM
 - Cerita ini kuterima dari sebuah buku catatan tua yang dititipkan kepadaku tanpa nama pengirim. Sampulnya cokelat kusam, ujung-ujungnya mengelupas, dan beberapa halaman di dalamnya menempel oleh noda lembap seperti bekas air hujan yang mengering. Di halaman pertama, hanya ada satu kalimat:

“Jika kau membaca ini, berarti ia sudah tahu namamu.”

Aku menutup buku itu sejenak. Ada cerita-cerita yang terasa dingin bahkan sebelum dibaca. Dan yang satu ini—entah mengapa—membuat tengkukku seperti disentuh sesuatu yang tak terlihat.

Nama yang sering muncul di halaman-halaman berikutnya adalah Arga.

1. Rumah Kontrakan Tanpa Cermin

Arga pindah ke rumah kontrakan itu karena murah dan dekat dengan tempat kerjanya. Bangunan lama, berdinding bata tanpa plester di beberapa bagian, dengan halaman sempit dan satu pohon mangga yang daunnya jarang.

Hal pertama yang ia sadari ketika menempatinya adalah tidak adanya cermin.

Bukan hanya di kamar mandi. Di seluruh rumah itu, tak ada satu pun permukaan yang cukup memantulkan wajahnya. Bahkan kaca jendela tampak buram seperti diselimuti lapisan minyak tipis.

“Aneh,” gumam Arga. Tapi ia mengabaikannya.

Malam pertama berjalan biasa. Malam kedua juga.

Malam ketiga, Arga terbangun oleh suara sesuatu yang digesekkan ke lantai—perlahan, ritmis, seperti kuku diseret tanpa tergesa.

Ia duduk di ranjang. Suara itu datang dari luar kamar.

Saat ia membuka pintu, suara itu berhenti.

Koridor gelap. Lampu redup berkelip. Udara dingin.

Dan dari sudut matanya, Arga merasa ada seseorang berdiri membelakanginya.

Ia menoleh cepat.

Tak ada siapa pun.

2. Kepala Licin dan Nafas Panas

Mimpi pertama datang keesokan malam.

Arga berdiri di sebuah lorong panjang tanpa pintu. Dindingnya hitam, basah, berkilau seperti kulit ular. Dari kejauhan, terdengar napas berat—dekat, terlalu dekat.

Lalu ia melihatnya.

Sesosok makhluk bertubuh manusia, tinggi, kurus, dengan kepala gundul mengkilap. Kulit kepalanya pucat seperti lilin. Matanya cekung dan merah. Mulutnya terbuka, memperlihatkan taring panjang yang menjorok keluar, kuning kecokelatan, berlapis lendir.

Makhluk itu tersenyum.

“Akhirnya,” katanya dengan suara serak. “Kau melihatku.”

Arga ingin berteriak, tapi suaranya hilang.

Makhluk itu mendekat. Nafasnya panas dan bau—campuran besi, darah, dan tanah basah.

“Kau lupa,” bisiknya. “Tapi aku tidak.”

Arga terbangun dengan teriakan.

Bantalnya basah oleh keringat. Yang membuatnya membeku adalah bekas goresan panjang di dinding, tepat di samping kepalanya—seperti bekas kuku yang ditarik kuat.

3. Nama yang Dipanggil

Sejak mimpi itu, Arga mulai mendengar namanya dipanggil.

Bukan dengan suara keras. Melainkan bisikan.

“Arga…”

Datang dari kamar mandi. Dari kolong meja. Dari sudut ruangan yang gelap.

Saat ia mencari sumbernya, bisikan itu menghilang.

Ia mulai sulit tidur. Setiap memejamkan mata, ia melihat kilatan kepala licin itu. Taring panjangnya selalu tampak lebih dekat.

Suatu sore, tetangganya—seorang ibu tua—menegurnya.

“Kamu lihat cermin di rumah itu?” tanya sang ibu tiba-tiba.

Arga menggeleng.

Ibu itu menghela napas panjang. “Bagus.”

“Bagus kenapa, Bu?”

“Karena dia suka wajah,” jawabnya lirih. “Dan cermin membuatnya ingat.”

Arga ingin bertanya siapa “dia”. Tapi ibu itu sudah masuk ke rumahnya, menutup pintu perlahan.

4. Asal-usul yang Terpotong

Di halaman-halaman buku catatan yang kuterima, Arga menuliskan penyelidikannya.

Ia mencari tahu sejarah rumah itu.

Dari arsip kelurahan, ia menemukan catatan samar tentang seorang pria bernama Wiranata, penjaga gudang tua yang terbakar puluhan tahun lalu. Tubuhnya ditemukan tanpa rambut—hangus bersih—dan dengan bekas gigitan di leher, seolah darahnya dihisap.

Desas-desus mengatakan Wiranata melakukan ritual terlarang untuk memperpanjang hidup. Ritual itu gagal. Tubuhnya mati, tapi sesuatu darinya bertahan.

Ia dikenal dengan julukan yang tak pernah ditulis lengkap di arsip.

Hantu Gundul Bertaring Panjang.

Makhluk yang mencuri napas dan mengingat nama-nama orang yang pernah menghina, melupakan, atau menempati tempatnya tanpa izin.

Arga menutup arsip itu dengan tangan gemetar.

Ia ingat sesuatu.

Sebuah ejekan masa kecil, puluhan tahun lalu, tentang seorang pria gundul di gudang tua. Tawa. Lemparan batu. Jeritan marah.

Wajah itu samar, tapi kepala licinnya jelas di ingatan Arga.

5. Mimpi Kedua: Jam Tanpa Jarum

Mimpi berikutnya lebih panjang.

Arga berdiri di ruangan bundar. Di tengahnya, jam dinding besar tanpa jarum berdetak keras. Setiap detiknya terasa seperti pukulan di dada.

Hantu Gundul itu berdiri di seberang.

“Kau mengambil waktuku,” katanya. “Sekarang aku mengambil wajahmu.”

Ia melangkah maju.

Di dinding, Arga melihat bayangannya—tapi bayangan itu tak memiliki rambut. Kulit kepalanya mengkilap. Mulutnya terbuka, dan taring panjang mulai tumbuh.

“Tidak!” teriak Arga.

Hantu itu tertawa. Taringnya beradu, mengeluarkan bunyi kering.

“Kita mirip,” katanya. “Tinggal menunggu.”

Arga terbangun sambil memegangi kepalanya.

Rambutnya rontok di tangan.

6. Cermin yang Muncul Sendiri

Suatu malam, Arga pulang lebih larut dari biasanya. Lampu rumahnya menyala meski ia yakin mematikannya.

Di ruang tengah, berdiri sebuah cermin besar yang tak pernah ia beli.

Bingkainya kayu tua, penuh ukiran tak dikenal.

Di cermin itu, Arga melihat dirinya—wajah pucat, mata cekung.

Dan di belakangnya, berdiri Hantu Gundul Bertaring Panjang.

Arga berbalik cepat.

Tak ada siapa pun.

Saat ia menoleh lagi ke cermin, bayangan itu masih ada—kini lebih dekat, taringnya hampir menyentuh leher Arga.

“Sekarang,” bisik suara di telinganya. “Lihat aku.”

Cermin retak dengan suara nyaring.

Arga berlari keluar rumah, meninggalkan segalanya.

7. Tidak Semua Orang Bisa Pergi

Arga menumpang di rumah temannya. Tapi malam itu, mimpi itu datang lagi.

Ia berada di depan rumah kontrakan. Pohon mangga di halaman kini gundul, tanpa daun. Tanah di sekitarnya penuh bekas cakaran.

Hantu Gundul berdiri di teras.

“Kau pikir jarak menyelamatkan?” tanyanya.

Ia melompat.

Gerakannya cepat, tak wajar.

Arga terjatuh. Wajah makhluk itu tepat di atasnya. Taring panjang meneteskan cairan gelap.

“Namamu,” bisiknya. “Manis.”

Gelap.

8. Penemuan di Rumah Kosong

Beberapa hari kemudian, Arga dinyatakan hilang.

Polisi menemukan rumah kontrakan itu kosong. Tak ada tanda perlawanan.

Kecuali satu hal.

Di kamar mandi, di dinding yang lembap, terukir tulisan dengan kuku:

“IA MELIHATKU.”

Dan di lantai, berserakan rambut—rambut Arga.

Tidak ada jasad.

Tidak ada darah.

Hanya bau besi yang samar.

9. Catatan Terakhir

Halaman terakhir buku catatan itu membuatku terdiam lama.

Tulisan Arga semakin kacau, seolah ditulis tergesa:

“Ia tidak datang untuk membunuh. Ia datang untuk menggantikan. Jika kau membaca ini, periksa bayanganmu. Jika rambutmu mulai rontok, jangan bercermin. Jangan sebut namamu keras-keras. Dan jika kau mendengar napas di belakangmu—itu bukan imajinasimu.”

Aku menutup buku itu.

Di balik kaca jendela, pantulanku tampak buram.

Dan untuk sesaat—hanya sesaat—aku merasa rambutku lebih tipis dari kemarin.

Aku, Laras, hanya menuliskan apa yang tertinggal.
Tentang Hantu Gundul Bertaring Panjang—makhluk yang tak punya rambut, tapi menyimpan ingatan lebih tajam dari manusia.

Jika suatu malam kau merasa dipanggil dengan suara pelan dari sudut gelap rumahmu,
dan udara di belakang lehermu tiba-tiba hangat—

jangan menoleh terlalu cepat.
Karena mungkin…
ia sedang memastikan wajahmu cocok untuk dikenakan.

Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis

DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com

https://www.bangsahebat.com/search/label/FOKUS%20BANGSA
https://www.bangsahebat.com/p/press-release-gerakan-bangsahebatcom.html

Type above and press Enter to search.