TUroTUr5TpA6TUO7BSM0TfG0Ti==

Gotong Royong Ditinggal, Desa Bisa Runtuh? Pak Lurah Waguyo Buka Suara Soal Hidup yang Makin Sendiri – KATA PAK LURAH WAGUYO


BANGSAHEBAT.COM
 - Pagi itu, balai desa belum sepenuhnya ramai. Matahari baru naik sepenggalah, sinarnya menembus sela pohon mangga tua di samping lapangan. Di sudut balai, Pak Lurah Waguyo duduk di bangku kayu panjang. Kumis tebalnya tampak basah oleh embun, kupluk rajut ungunya sedikit miring, seperti biasa. Ia memandangi warga yang lalu-lalang, sebagian sibuk dengan urusan masing-masing, sebagian lagi sekadar lewat tanpa saling sapa.

Bu Ngatini datang membawa termos air hangat. Wajahnya tetap teduh, senyum keibuannya seolah tak pernah habis. Di belakangnya, Sutini, ponakan Pak Lurah, berjalan sambil menenteng sapu lidi, matanya sesekali melirik layar ponsel.

Pak Lurah menarik napas panjang.
“Desa iki kok rasane beda, ya…” gumamnya pelan.

Dari sinilah obrolan panjang tentang gotong royong, individualisme, dan masa depan desa dimulai. Obrolan sederhana, tapi gaungnya bisa sampai ke mana-mana.

Dialog Pak Lurah Waguyo

Pak Lurah Waguyo:
“Bu… kowe ngrasakke ora? Saiki wong-wong kok cepet-cepet kabeh. Mlaku wae cepet, ngomong cekak, nyawang wong ora nganti eseman.”

Bu Ngatini:
(tersenyum lembut)
“Zaman memang berubah, Pak. Tapi hati manusia sebenarnya sama saja. Cuma kadang ketutup sibuk.”

Sutini:
(sambil menyapu, penasaran)
“Pak Lurah, gotong royong itu kan masih ada ya? Kemarin masih kerja bakti bersihin selokan.”

Pak Lurah Waguyo:
(tertawa kecil)
“Isih ana, Nduk. Tapi sing teko kadhang mung wong sing kuwi-kuwi wae. Liyane alesan kerja, alesan sibuk, alesan capek.”

Bu Ngatini:
“Padahal dulu, sebelum ada HP, sebelum semua serba cepat, gotong royong itu seperti napas desa.”

Pak Lurah Waguyo:
“Nah kuwi. Dulu yen ana wong bangun omah, sak desa teka. Ora ditimbali, ora dibayar. Saiki, yen ora ana undangan resmi lan snack, durung mesti ana sing rawuh.”

Sutini:
“Berarti salah teknologinya, Pak?”

Pak Lurah Waguyo:
(menggeleng pelan)
“Bukan salah teknologine, Nduk. Sing salah iku carane awake dhewe nggunakke. Teknologi iku alat, dudu atine.”

Pak Lurah berdiri, memandang lapangan desa yang mulai sepi.
“Gotong royong iku dudu mung kerja bareng. Gotong royong iku rasa nduweni.”

Bu Ngatini:
“Rasa punya bersama, Pak. Rasa bahwa desa ini rumah kita semua.”

Pak Lurah Waguyo:
“Bener. Yen omahmu bocor, kowe ora nunggu disuruh, kan? Langsung dibenerke. Tapi yen omah bersama bocor, kok nunggu wong liya sing maju.”

Sutini:
(berpikir)
“Karena merasa bukan rumah sendiri, Pak?”

Pak Lurah Waguyo:
“Persis. Iki sing bahaya. Yen desa mung dianggep tempat numpang urip, dudu panggonan kanggo dijaga, desa iso sepi saka jiwa.”

Beberapa warga mulai mendekat. Ada Pak RT, ada pemuda karang taruna, ada ibu-ibu yang berhenti sejenak dari pasar.

Pak RT:
“Pak Lurah, saya jadi kepikiran. Anak-anak muda sekarang lebih aktif di dunia maya daripada di dunia nyata.”

Pak Lurah Waguyo:
(tersenyum bijak)
“Dunia maya iku ora salah, Pak RT. Tapi yen kabeh pindah neng kana, sing njaga dunia nyata sopo?”

Pemuda Desa:
“Kami mau gotong royong, Pak, tapi sering merasa percuma. Yang datang sedikit.”

Pak Lurah Waguyo:
“Gotong royong iku dudu soal jumlah. Iki soal keteladanan. Yen sing sedikit iku terus istiqomah, sing liyo bakal isin dhewe.”

Bu Ngatini:
“Benar. Kebaikan itu menular, meski pelan.”

Pak Lurah mengangguk.
“Desa iki guru paling jujur. Yen kowe ora gelem nulungi tangga, ojo kaget yen besok ora ana sing nulungi kowe.”

Sutini:
“Berarti gotong royong itu investasi sosial, Pak?”

Pak Lurah Waguyo:
“Lha pinter tenan kowe, Nduk. Gotong royong iku tabungan sing ora ana banke, tapi cair pas paling dibutuhake.”

Warga tertawa kecil, tapi wajah mereka tampak merenung.

Pak RT:
“Kalau tidak dijaga, apa dampaknya, Pak Lurah?”

Pak Lurah Waguyo:
“Ngeri, Pak. Desa iso rame bangunane, tapi sepi rasa. Wong cedhak tapi ora peduli. Tetangga ana musibah, mung dadi status WhatsApp.”

Bu Ngatini:
(suaranya lembut tapi dalam)
“Dan ketika rasa itu hilang, yang tersisa hanya kesepian, meski hidup berdekatan.”

Pak Lurah menghela napas.
“Makane aku sering ngomong, desa kudu adaptasi karo zaman, tapi ojo nganti ninggalke akar. Gotong royong iku akar.”

Pemuda Desa:
“Jadi apa yang harus kami lakukan, Pak?”

Pak Lurah Waguyo:
“Mulai saka sing cilik. Sapa tetangga. Melu kerja bakti sanajan mung sebentar. Ajak, dudu nyalahke.”

Sutini:
“Dan jangan nunggu viral dulu baru peduli.”

Semua tertawa, tapi setuju.

Pak Lurah Waguyo:
“Nah, kuwi. Yen kabeh kudu diviralkan, ati-ati, sing ilang iku keikhlasan.”

Menjelang siang, balai desa kembali lengang. Tapi kata-kata Pak Lurah Waguyo masih tertinggal di udara, menyelinap ke hati siapa pun yang mendengar.

Di dunia yang makin individual, desa mengajarkan satu hal sederhana tapi mahal: hidup tidak bisa sendirian. Gotong royong bukan sekadar tradisi lokal, melainkan nilai universal yang dibutuhkan dunia modern—tentang empati, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial.

Dari bangku kayu balai desa, suara Pak Lurah Waguyo mengingatkan kita semua:
kalau rasa saling peduli runtuh, sekuat apa pun bangunan, tetap akan roboh.

Karena sejatinya, membangun desa berarti membangun manusia.
Dan membangun manusia, selalu dimulai dari hati.

Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis

DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com

https://www.bangsahebat.com/search/label/FOKUS%20BANGSA
https://www.bangsahebat.com/p/press-release-gerakan-bangsahebatcom.html

Type above and press Enter to search.