BANGSAHEBAT.COM - Assalamu’alaikum anak-anak bangsa,
ini emak Maya lagi nyeruput kopi pahit di dapur kecil emak. Kopinya pahit, tapi yang emak lihat di luar sana kadang lebih pahit lagi. Zaman sekarang ini aneh ya, Nak. Dulu kalau salah, kita malu sama tetangga. Sekarang? Malunya kalau kamera mati, kuota habis, atau postingan sepi like.
Emak bukan mau sok suci. Emak juga bukan anti teknologi. Emak cuma ibu-ibu berdaster yang kebetulan masih punya mata, telinga, dan rasa prihatin. Karena makin hari, emak lihat banyak anak muda hidup bukan buat dirinya sendiri, tapi buat validasi orang lain. Hidupnya diukur bukan dari tenang atau bahagia, tapi dari berapa yang nonton, berapa yang komentar, dan berapa yang bilang “keren”.
Zaman Dulu: Salah Itu Urusan Hati
Dulu, Nak, kalau kita bikin salah, cukup satu kampung tahu. Malunya bukan karena difoto, tapi karena hati sendiri nggak enak. Ditegur emak, dimarahi bapak, disindir tetangga, itu sudah cukup bikin kita mikir ulang.
Kalau jatuh, ya jatuh diam-diam. Kalau gagal, ya nangisnya di kamar. Tidak ada tombol “unggah penderitaan”. Tidak ada fitur “siarkan luka”. Yang ada cuma satu: belajar nerima dan bangkit pelan-pelan.
Sekarang beda. Anak jatuh sedikit, langsung live. Anak gagal dikit, langsung story. Emak kadang bingung, ini anak butuh solusi, atau butuh ditonton?
Zaman Sekarang: Salah Itu Konten
Emak perhatiin, banyak anak muda sekarang bukan lagi takut berbuat salah, tapi takut nggak dilihat. Salah malah dijadikan bahan konten. Ribut dijadikan trending. Masalah dijadikan hiburan.
Emak pernah lihat anak nangis sambil pegang kamera. Emak bukan nggak iba, tapi emak bertanya dalam hati:
👉 “Nak, kamu lagi butuh dipeluk, atau lagi ngejar view?”
Karena kalau luka sudah jadi konten, lama-lama yang sembuh bukan hati, tapi algoritma.
Validasi Itu Kayak Gula: Manis di Awal, Busuk di Akhir
Validasi dari luar itu manis, Nak. Emak ngerti. Dipuji bikin senang. Diakui bikin bangga. Tapi kalau hidup cuma ngejar itu, lama-lama kamu capek sendiri.
Hari ini dipuji, besok dilupakan. Hari ini viral, besok tenggelam. Kalau harga diri kamu digantungkan ke angka, maka ketika angka turun, harga diri ikut jatuh.
Emak lihat banyak anak muda:
- Senyum di kamera, tapi kosong di rumah
- Ramai di kolom komentar, tapi sepi di kepala
- Berani tampil, tapi rapuh saat sendirian
Ini bukan salah satu-dua anak, Nak. Ini penyakit zaman.
Malu yang Hilang, Gengsi yang Membesar
Dulu kita diajari malu kalau:
- Ngomong kasar
- Nggak sopan
- Numpang hidup tapi nggak tahu diri
Sekarang, yang dianggap malu justru:
- Nggak update
- Nggak ikut tren
- Hidup biasa-biasa aja
Padahal hidup biasa itu bukan dosa. Kerja pelan-pelan itu bukan aib. Nggak viral itu bukan kegagalan.
Tapi sistem hari ini mengajarkan satu hal berbahaya:
👉 “Kalau kamu nggak kelihatan, kamu dianggap nggak ada.”
Dan anak-anak muda, yang jiwanya masih mencari bentuk, jadi korban paling empuk.
Orang Tua Kadang Ikut Salah
Emak juga mau jujur. Kadang orang tua ikut menyuburkan masalah ini. Ada yang bangga anaknya viral, tapi lupa nanya: “Kamu bahagia nggak?”
Ada yang lebih senang anaknya tampil keren di media sosial, daripada jujur soal kelelahan hidup. Ada yang lebih bangga pamer pencapaian anak, daripada mendampingi proses jatuh bangunnya.
Emak bukan nyalahin, tapi mengingatkan:
anak itu bukan proyek pencitraan. Anak itu manusia, Nak.
Sekolah Mengajar Pintar, Tapi Tidak Menguatkan Jiwa
Di sekolah, anak diajari pintar berhitung, pintar bicara, pintar presentasi. Tapi jarang diajari:
- Cara menerima gagal
- Cara mengelola rasa iri
- Cara hidup tanpa tepuk tangan
Akhirnya ketika masuk dunia nyata, yang isinya kompetisi dan perbandingan, anak-anak ini goyah. Sedikit tertinggal, langsung merasa tidak berharga.
Padahal hidup itu bukan lomba lari 100 meter. Hidup itu maraton panjang, Nak. Ada yang cepat, ada yang lambat, dan semuanya sah.
Media Sosial Bukan Masalah, Tapi Cara Pakainya
Emak nggak bilang media sosial itu jahat. Yang jahat itu kalau hidupmu dikendalikan olehnya. Media sosial harusnya alat, bukan hakim. Sarana, bukan penentu nilai diri.
Kalau kamu:
- Sedih tapi pura-pura bahagia demi konten
- Capek tapi tetap posting biar dianggap kuat
- Sengsara tapi ditutup filter biar terlihat sukses
Maka yang kamu bangun bukan hidup, tapi topeng.
Dan topeng, Nak, lama-lama bikin sesak.
Pesan Emak Buat Anak Muda
Nak, dengar sebentar ya suara emak dari dapur kecil ini.
Kamu tidak harus selalu kuat.
Kamu tidak wajib selalu kelihatan.
Kamu tidak perlu hidup sesuai ekspektasi semua orang.
Kalau capek, istirahat.
Kalau gagal, belajar.
Kalau sedih, nangis—tanpa kamera juga nggak apa-apa.
Harga diri kamu tidak ditentukan oleh like, tapi oleh bagaimana kamu bertahan dengan jujur.
Pesan Emak Buat Negara dan Masyarakat
Kalau kita terus membiarkan anak-anak muda tumbuh di dunia yang isinya pamer, adu nasib, dan kompetisi tanpa empati, jangan heran kalau generasi kita terlihat ramai tapi kosong.
Negara perlu:
- Ruang aman bagi anak muda
- Edukasi mental yang nyata, bukan slogan
- Sistem yang menghargai proses, bukan hanya hasil
Masyarakat juga perlu belajar berhenti membandingkan, berhenti menekan, dan mulai mendengarkan.
Dulu kita malu sama tetangga karena takut menyakiti hati orang.
Sekarang banyak yang malu sama kamera karena takut tak dianggap ada.
Emak cuma ingin mengingatkan:
hidup bukan panggung sandiwara, Nak.
Hidup itu perjalanan panjang, kadang sepi, kadang ramai—dan itu wajar.
Salam dari dapur kecil emak,
suara hati emak bukan cuma buat masak, tapi buat bangsa.
Cek terus suara emak lainnya di BANGSAHEBAT.COM.
.png)


Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis
DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com