TUroTUr5TpA6TUO7BSM0TfG0Ti==

Desa Jangan Cuma Jadi Pasar: Ketika Rakyat Kecil Hanya Jadi Pembeli di Tanah Sendiri, KATA PAK LURAH WAGUYO


BANGSAHEBAT.COM
 - Pelan-pelan desa berubah wajah. Warung tradisional kalah dengan produk kemasan, sawah tetap hijau tapi berasnya dibeli dari luar, dan uang warga desa mengalir pergi tanpa sempat berputar.

Pak Lurah Waguyo melihat satu masalah besar yang sering dianggap sepele: desa makin rajin belanja, tapi malas memproduksi. Desa tidak lagi berdiri sebagai pelaku ekonomi, melainkan sekadar pasar.

Dialog Pak Lurah Waguyo

Pak Lurah Waguyo:
(duduk di pendopo desa, memandang jalan yang ramai motor lewat)
“Coba kamu perhatikan, Tin. Setiap hari ada mobil masuk desa, jualan ini-itu. Tapi jarang sekali mobil desa keluar bawa hasil produksi sendiri.”

Sutini:
(mengernyit polos)
“Lho iya, Pak. Kita beli beras, beli sayur, beli telur… padahal sawah sama kebun ada di mana-mana.”

Bu Ngatini:
(tersenyum getir)
“Itulah yang bikin hati saya miris, Pak. Kita kerja di tanah sendiri, tapi nilai tambahnya dinikmati orang lain.”

Pak Lurah Waguyo:
“Nah, itu yang saya maksud. Desa jangan cuma jadi pasar. Kalau cuma jadi pasar, rakyat kecil cuma jadi pembeli di tanahnya sendiri.”

Petani Jadi Produsen, Tapi Bukan Penentu Harga

Pak Lurah Waguyo:
“Petani kita rajin, capek, kepanasan. Tapi begitu panen, harga ditentukan tengkulak.”

Sutini:
“Terus berasnya dijual mahal di toko ya, Pak?”

Pak Lurah Waguyo:
“Betul. Petani jual gabah murah, warga desa beli beras mahal. Logikanya terbalik tapi kita anggap biasa.”

Bu Ngatini:
“Karena kita nggak punya kendali dari hulu sampai hilir.”

Pak Lurah Waguyo:
“Itulah penyakit lama desa. Produksi iya, kepemilikan tidak.”

UMKM Desa Kalah oleh Branding Kota

Sutini:
“Pak Lurah, kenapa jajanan desa jarang masuk minimarket?”

Pak Lurah Waguyo:
“Karena kita sering kalah bukan di rasa, tapi di kemasan, izin, dan pemasaran.”

Bu Ngatini:
“Padahal rasanya sering lebih enak.”

Pak Lurah Waguyo:
“Betul. Tapi desa sering berhenti di ‘yang penting laku’. Sementara yang dari luar mikir panjang: merek, desain, cerita.”

Sutini:
“Berarti desa kalah strategi ya, Pak?”

Pak Lurah Waguyo:
“Bukan kalah pintar. Kalah kesempatan dan pendampingan.”

Ketergantungan yang Pelan-Pelan Membunuh Kemandirian

Pak Lurah Waguyo:
“Sekarang pupuk beli dari luar, bibit dari luar, bahkan uang pun pinjam dari luar lewat aplikasi.”

Sutini:
“Itu yang bunganya gede itu ya?”

Pak Lurah Waguyo:
(mengangguk pelan)
“Cepat, tapi memiskinkan. Desa makin tergantung, makin lemah.”

Bu Ngatini:
“Kalau semua dari luar, desa tinggal jadi penonton.”

Pak Lurah Waguyo:
“Dan penonton itu lama-lama lupa caranya bermain.”

Koperasi dan BUMDes: Alat atau Pajangan?

Sutini:
“Pak Lurah, kan ada koperasi sama BUMDes. Itu buat apa?”

Pak Lurah Waguyo:
“Harusnya buat melawan ketergantungan tadi. Tapi sering cuma jadi papan nama.”

Bu Ngatini:
“Karena nggak dikelola dengan hati.”

Pak Lurah Waguyo:
“Koperasi itu senjata rakyat kecil. Tapi kalau tumpul, rakyat tetap terluka.”

Sutini:
“Kalau koperasi jalan bener, desa bisa produksi sendiri?”

Pak Lurah Waguyo:
“Bisa. Dari pupuk, beras kemasan desa, sampai pembiayaan UMKM.”

Anak Muda: Konsumen atau Penggerak?

Pak Lurah Waguyo:
“Yang paling saya khawatirkan, anak muda desa sekarang lebih bangga pakai produk luar.”

Sutini:
(tersipu)
“Hehe… iya sih, Pak.”

Pak Lurah Waguyo:
“Bukan salahmu. Sistemnya yang bikin begitu. Anak muda seharusnya jadi penggerak produksi, bukan target pasar.”

Bu Ngatini:
“Kalau anak muda masuk koperasi, masuk BUMDes, desa bisa berubah cepat.”

Pak Lurah Waguyo:
“Teknologi di tangan anak muda, sumber daya di desa. Tinggal disambungkan.”

Desa Harus Berani Mengolah, Bukan Sekadar Menjual

Pak Lurah Waguyo:
“Kita ini terlalu cepat menjual mentah. Padi dijual gabah, singkong dijual basah.”

Sutini:
“Kalau diolah dulu, harganya naik ya, Pak?”

Pak Lurah Waguyo:
“Naik berkali-kali lipat. Tapi butuh keberanian dan kebersamaan.”

Bu Ngatini:
“Itulah fungsi gotong royong ekonomi.”

Pak Lurah Waguyo:
“Betul. Gotong royong bukan cuma angkat kursi, tapi angkat nilai tambah.”

Suara Desa untuk Indonesia

Pak Lurah Waguyo:
“Desa jangan cuma bangga punya pasar ramai. Desa harus bangga punya produksi kuat.”

(menatap sawah yang menguning)
“Kalau desa cuma jadi pasar, uang akan terus pergi. Tapi kalau desa jadi produsen, martabat akan kembali.”

Bu Ngatini:
“Pelan-pelan asal konsisten, Pak.”

Sutini:
“Aku pengen desa kita terkenal karena produknya, bukan cuma pembelinya.”

Pak Lurah Waguyo:
(tersenyum penuh wibawa)
“Itulah cita-cita desa merdeka. Berdiri di tanah sendiri, makan dari hasil sendiri, dan menentukan nasib sendiri.”

Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis

DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com

https://www.bangsahebat.com/search/label/FOKUS%20BANGSA
https://www.bangsahebat.com/p/press-release-gerakan-bangsahebatcom.html

Type above and press Enter to search.