TUroTUr5TpA6TUO7BSM0TfG0Ti==

Bermimpi Bertemu Nyai Roro Kidul: Ketika Tidur Membuka Pintu ke Laut Selatan


BANGSAHEBAT.COM
 - Aku tidak pernah menganggap mimpi sebagai sesuatu yang sakral. Bagiku, mimpi hanyalah sisa-sisa pikiran yang tertinggal saat tubuh terlalu lelah untuk sadar sepenuhnya. Namun setelah membaca kisah ini—yang datang dari seorang perempuan bernama Sinta—aku mulai mempertanyakan satu hal:

bagaimana jika mimpi bukan sekadar bunga tidur, melainkan undangan?

Cerita ini tidak dimulai di laut. Tidak juga di pantai selatan yang terkenal angker itu.
Cerita ini justru dimulai di sebuah kamar kos sempit, di lantai dua bangunan tua yang menghadap rel kereta.

1. Mimpi Pertama: Gaun Hijau dan Angin Asin

Sinta bukan orang yang percaya hal-hal gaib. Ia bekerja sebagai desainer grafis, rasional, terbiasa berpikir logis. Ia bahkan jarang pulang kampung, apalagi mengunjungi pantai selatan yang penuh mitos.

Namun suatu malam, setelah bekerja hingga hampir subuh, ia tertidur dengan lampu menyala.

Dalam tidurnya, ia berdiri di tepi pantai.

Langit gelap, tapi laut berkilau seperti cermin hitam. Angin membawa bau asin yang sangat kuat—begitu nyata sampai membuat dadanya sesak. Pasir di bawah kakinya dingin dan basah.

Lalu ia melihatnya.

Seorang wanita bergaun hijau berdiri di atas batu karang. Rambutnya panjang, hitam, tergerai, bergerak seolah hidup mengikuti angin. Wajahnya indah—terlalu indah untuk manusia—dengan mata yang tajam dan dalam.

Wanita itu tidak tersenyum.

“Kamu datang,” katanya, suaranya tenang tapi bergema seperti datang dari dasar laut.

Sinta ingin bertanya siapa dia, tapi lidahnya kelu. Tubuhnya tak bisa bergerak.

“Kamu dipanggil,” lanjut wanita itu. “Dan kamu menjawab.”

Saat itu, ombak besar menghantam karang. Air laut naik, menyentuh kaki Sinta.

Dingin.

Sinta terbangun dengan teriakan.

Seluruh tubuhnya basah oleh keringat. Yang aneh, kakinya terasa dingin dan asin, seolah benar-benar terkena air laut.

Ia menertawakannya keesokan pagi. “Cuma mimpi,” katanya pada diri sendiri.

Ia tidak tahu, mimpi itu belum selesai.

2. Mimpi Kedua: Nama yang Dipanggil

Malam berikutnya, mimpi itu datang lagi.

Kali ini Sinta tidak langsung berada di pantai. Ia berjalan menyusuri lorong batu yang panjang dan lembap. Dindingnya dipenuhi lumut, dan air menetes dari langit-langit.

Di ujung lorong, terdengar suara gamelan pelan—lambat, berat, seperti dimainkan di dalam air.

Langkahnya terhenti saat seseorang memanggil namanya.

“Sinta…”

Suara itu lembut, tapi membuat jantungnya berdebar liar.

Ia berbalik.

Wanita bergaun hijau itu berdiri sangat dekat sekarang. Matanya menatap Sinta seolah sedang menilai sesuatu.

“Kamu membawa bau darat,” katanya. “Tapi hatimu basah.”

Sinta gemetar. “Siapa… siapa Anda?”

Wanita itu tersenyum tipis.

“Manusia memanggilku dengan banyak nama,” katanya. “Tapi kamu boleh memanggilku seperti mereka.”

Saat itulah Sinta tahu—tanpa perlu diberi tahu—siapa yang berdiri di hadapannya.

Nyai Roro Kidul.

Ia terbangun dengan napas tersengal.

Pagi itu, rambut Sinta rontok lebih banyak dari biasanya. Dan di pergelangan kakinya, muncul bekas kehijauan, seperti memar samar.

3. Gangguan Saat Terjaga

Sejak mimpi kedua, hidup Sinta mulai berubah.

Ia sering mencium bau laut di tempat yang mustahil—di kantor, di lift, bahkan di dalam bus. Kadang, ia mendengar suara ombak di tengah kebisingan kota.

Yang paling mengganggu adalah air.

Setiap kali mandi, ia merasa air mengalir terlalu lama. Setiap kali mencuci tangan, ia seperti melihat bayang hijau di permukaan air.

Dan setiap malam, tepat pukul 00.13, ia selalu terbangun.

Bukan karena mimpi.
Melainkan karena rasa dipanggil.

Pada malam ketujuh, ia tak bisa menahan diri. Ia tertidur lagi dengan perasaan pasrah.

4. Mimpi Ketiga: Istana di Bawah Laut

Kali ini, ia tidak berjalan.

Ia tenggelam.

Air laut menelannya, tapi ia tidak sesak. Ia bisa bernapas. Di sekelilingnya, cahaya kehijauan menyala lembut.

Ia berdiri di sebuah istana bawah laut—pilar-pilar besar berukir, lantai berkilau seperti mutiara, dan makhluk-makhluk laut yang bergerak perlahan seperti bayangan hidup.

Nyai Roro Kidul duduk di singgasana.

“Kamu sudah sampai,” katanya.

Sinta berlutut tanpa sadar.

“Kenapa saya?” tanyanya dengan suara bergetar.

Nyai Roro Kidul bangkit dan berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuat air beriak, meski mereka berada di bawah laut.

“Kamu tidak dipilih,” katanya. “Kamu membuka dirimu sendiri.”

Ia menyentuh dada Sinta.

“Kamu lelah. Kamu kosong. Dan laut menyukai ruang kosong.”

Sinta menangis. “Saya ingin pulang.”

Nyai Roro Kidul menatapnya lama.

“Pulang itu relatif,” katanya. “Ada yang pulang ke rumah. Ada yang pulang ke asal.”

Ia menggenggam tangan Sinta.

Dan untuk pertama kalinya, Sinta merasakan ketakutan yang murni.

5. Tanda di Dunia Nyata

Keesokan harinya, Sinta tidak masuk kerja. Ia demam tinggi. Tubuhnya panas, tapi tangannya dingin.

Ibunya datang dari kampung setelah mendengar kabar itu.

Begitu melihat Sinta, sang ibu pucat.

“Kenapa kamu pakai hijau?” tanyanya.

Sinta menoleh ke bajunya—kaus putih polos. “Aku nggak pakai hijau, Bu.”

Ibunya menelan ludah. “Maaf… Ibu kira…”

Malam itu, ibunya membakar kemenyan tanpa izin. Bau asap memenuhi kamar.

“Bu, Ibu kenapa?” tanya Sinta lemah.

Ibunya menangis. “Ibu mimpi kamu berdiri di pantai selatan. Kamu dipanggil seorang wanita cantik.”

Sinta terdiam.

6. Mimpi Keempat: Tawaran

Mimpi terakhir datang tanpa peringatan.

Sinta berdiri di pantai lagi. Kali ini matahari terbenam, laut berwarna hijau keemasan.

Nyai Roro Kidul berdiri di sampingnya.

“Kamu bisa berhenti,” katanya. “Atau kamu bisa melanjutkan.”

“Apa maksudnya?” tanya Sinta.

“Kamu bisa melupakan semua ini,” kata Nyai Roro Kidul. “Tapi hidupmu akan tetap kosong. Atau kamu ikut denganku—menjadi bagian dari yang abadi.”

Sinta menatap laut. Ombak berbisik, memanggil namanya.

“Apa yang harus saya lakukan?” tanyanya lirih.

Nyai Roro Kidul tersenyum.

“Bangunlah,” katanya. “Dan lihat apa yang kamu pilih.”

7. Setelah Terbangun

Sinta bangun di rumah sakit.

Dokter mengatakan ia ditemukan pingsan di kamar kos selama dua hari. Tidak makan. Tidak minum.

Ia selamat.

Namun sejak hari itu, Sinta tak pernah bisa tidur nyenyak. Setiap kali terpejam, ia mendengar suara laut.

Ia tidak pernah lagi bermimpi tentang Nyai Roro Kidul.

Tapi setiap kali melihat air laut di televisi, dadanya terasa hangat—seperti disambut.

Dan di lemari bajunya, entah sejak kapan, selalu ada gaun hijau yang bukan miliknya.

Sinta menutup ceritanya dengan satu pesan saat mengirimkannya padaku:

“Aku tidak tahu apakah aku menolak atau hanya ditunda. Tapi aku yakin satu hal—tidak semua mimpi ingin dilupakan. Beberapa ingin diingat… agar kita tidak kembali.”

Aku, Laras, hanya mencatat apa yang terjadi.
Tentang Nyai Roro Kidul, tentang mimpi, tentang laut.

Dan jika suatu malam kamu bermimpi berada di pantai selatan, mencium bau asin yang terlalu nyata—
jangan langsung percaya itu hanya mimpi.

Karena laut…
tidak pernah salah memanggil siapa yang membuka dirinya.

Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis

DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com

https://www.bangsahebat.com/search/label/FOKUS%20BANGSA
https://www.bangsahebat.com/p/press-release-gerakan-bangsahebatcom.html

Type above and press Enter to search.