BANGSAHEBAT.COM - Hujan turun sejak sore kemarin. Bukan hujan yang galak, tapi juga bukan hujan yang bisa dianggap remeh. Semalaman air merayap pelan-pelan, masuk ke halaman rumah, menyusup ke sela-sela jalan desa, lalu berhenti seolah kelelahan. Pagi ini, balai desa masih basah. Tanah becek. Bau lumpur bercampur daun busuk.
Beberapa warga duduk sambil menggulung celana. Ada yang mengeluh, ada yang diam, ada juga yang sekadar menghela napas. Di teras balai desa, Pak Lurah Waguyo duduk di bangku kayu. Kaos berkerah warna pink yang sudah agak pudar, kupluk rajut ungu menempel rapi di kepala. Kumis tebalnya bergerak pelan saat ia menyeruput teh hangat.
Di sampingnya berdiri Bu Ngatini, kerudung krem dan kebaya coklat bermotif bunga, memegang termos. Tak jauh dari sana, Sutini, ponakan Pak Lurah, duduk bersila dengan mata penuh rasa ingin tahu.
Hari ini, bukan rapat resmi. Tapi justru dari obrolan seperti inilah, suara desa sering lahir—dan kadang, suaranya bisa sampai ke mana-mana.
DIALOG PAK LURAH WAGUYO
SUTINI
Pak Lurah… aku mau tanya. Kenapa ya sekarang banjir sering datang? Dulu kata orang-orang, hujan deras pun air cepat surut. Sekarang hujan sebentar saja, jalan sudah kayak sungai.
PAK LURAH WAGUYO
(tersenyum kecil, menatap tanah becek di depan balai)
“Nduk… air itu sebenarnya nggak pernah jahat. Yang sering bikin masalah itu manusia. Air cuma lewat, tapi kita yang sering nutup jalannya.”
WARGA 1
Maksudnya gimana, Pak Lurah? Ini kan hujan dari langit, bukan dari tangan manusia.
PAK LURAH WAGUYO
“Betul, hujan memang dari langit. Tapi sebelum sampai ke sungai, air itu mampir ke halaman kita, ke got kita, ke kebiasaan kita. Kalau got penuh sampah, ya air bingung mau ke mana. Akhirnya dia masuk rumah.”
SUTINI
Jadi… banjir itu salah kita juga?
PAK LURAH WAGUYO
“Bukan cuma juga, Nduk. Kadang justru sebagian besar. Kita sering nyalahin hujan, tapi lupa nanya ke diri sendiri: sudah berapa kali kita buang sampah sembarangan?”
BU NGATINI
(lembut)
Ibu-ibu di dapur sering bilang, air sekarang cepat kotor. Baru hujan sebentar, sudah bau.
PAK LURAH WAGUYO
“Nah itu. Air itu cermin. Kalau lingkungannya kotor, bayangannya juga kotor.”
WARGA 2
Tapi Pak Lurah, desa kita kecil. Apa pengaruhnya ke dunia luar? Banjir kan juga terjadi di kota besar.
PAK LURAH WAGUYO
(menghela napas panjang)
“Justru karena kita kecil, peran kita penting. Dunia ini kumpulan dari desa-desa kecil. Kalau semua desa bilang ‘ah, cuma sedikit’, ya akhirnya dunia kebanjiran semua.”
SUTINI
Pak Lurah, guru sekolahku bilang sekarang namanya perubahan iklim. Itu apa sama kayak banjir?
PAK LURAH WAGUYO
(tersenyum bangga)
“Pinter kamu, Nduk. Perubahan iklim itu kayak sawah yang musimnya nggak bisa ditebak lagi. Dulu tanam padi tahu waktunya. Sekarang hujan bisa datang kapan saja, panas bisa lama sekali.”
WARGA 3
Berarti ini bukan cuma urusan desa?
PAK LURAH WAGUYO
“Iya. Ini urusan dunia. Tapi jangan salah, dunia itu dimulai dari halaman rumah.”
BU NGATINI
Kalau di rumah, yang bisa kita lakukan apa, Pak?
PAK LURAH WAGUYO
“Mulai dari yang sederhana. Pisahkan sampah. Jangan semua dilempar ke selokan. Tanam pohon, meski cuma satu. Dan yang paling susah: ubah kebiasaan.”
SUTINI
Kenapa yang paling susah justru kebiasaan, Pak?
PAK LURAH WAGUYO
“Karena kebiasaan itu sering kita anggap benar, padahal belum tentu bijak. Kita biasa buang sampah plastik, tapi lupa plastik itu nggak biasa hilang.”
WARGA 1
Pak Lurah, kadang orang bilang, ‘ah, satu sampah doang’.
PAK LURAH WAGUYO
(tersenyum getir)
“Banjir juga sering dimulai dari satu sampah doang. Tapi kalau satu orang mikir begitu, lalu seratus orang ikut, got kita kalah.”
SUTINI
Pak Lurah, kalau desa kita bersih, apa banjir pasti hilang?
PAK LURAH WAGUYO
“Tidak ada yang pasti di dunia ini, Nduk. Tapi setidaknya kita sudah berusaha. Alam itu adil. Kalau kita jaga, dia balas dengan ketenangan.”
BU NGATINI
Dan kalau tidak dijaga?
PAK LURAH WAGUYO
“Dia mengingatkan. Lewat banjir, lewat penyakit, lewat susah tidur karena cemas.”
WARGA 2
Pak Lurah, kadang orang mikir, ngapain capek-capek jaga lingkungan kalau pabrik di luar sana lebih merusak?
PAK LURAH WAGUYO
“Itu alasan paling sering dipakai untuk tidak berbuat apa-apa. Kita memang bukan pabrik besar. Tapi kita manusia yang punya pilihan.”
SUTINI
Pilihan apa, Pak?
PAK LURAH WAGUYO
“Pilihan untuk peduli atau pura-pura tidak tahu.”
WARGA 3
Kalau semua desa berpikir seperti ini, apa dunia bisa berubah?
PAK LURAH WAGUYO
(menatap warga satu per satu)
“Dunia tidak berubah oleh orang yang merasa kecil. Dunia berubah oleh orang kecil yang mau bergerak.”
BU NGATINI
Bapak sering bilang, rumah tangga adalah sekolah pertama.
PAK LURAH WAGUYO
“Betul. Kalau anak-anak lihat orang tuanya buang sampah sembarangan, jangan salahkan mereka kalau besar nanti melakukan hal yang sama.”
SUTINI
Berarti aku juga harus mulai dari sekarang ya, Pak?
PAK LURAH WAGUYO
“Justru kamu yang paling penting, Nduk. Masa depan desa ada di tanganmu. Masa depan dunia juga.”
WARGA 1
Pak Lurah, jadi banjir ini sebenarnya pesan?
PAK LURAH WAGUYO
“Iya. Pesan yang kadang kita dengar sambil mengomel. Padahal isinya jelas: berhenti serakah, mulai peduli.”
SUTINI
Kalau kita tidak berubah?
PAK LURAH WAGUYO
“Air akan tetap datang. Dan mungkin lain kali, dia tidak cuma mampir.”
(Suasana hening. Angin membawa bau tanah basah. Beberapa warga mengangguk pelan.)
PAK LURAH WAGUYO (melanjutkan)
“Desa ini kecil di peta, tapi besar di hati kita. Kalau desa ini selamat, kita ikut selamat. Kalau desa ini rusak, dunia kehilangan satu penjaga.”
Banjir pagi ini perlahan surut. Tapi kata-kata Pak Lurah Waguyo tidak ikut mengalir pergi. Ia menetap di benak warga, seperti lumpur yang mengingatkan bahwa air pernah datang.
Dari balai desa sederhana, suara kecil itu menggema: bahwa krisis lingkungan bukan cerita jauh di berita internasional. Ia ada di selokan depan rumah, di plastik yang dibuang sembarangan, di kebiasaan yang dianggap sepele.
Pak Lurah Waguyo tidak bicara sebagai ahli iklim. Ia bicara sebagai orang desa—yang paham bahwa dunia besar berdiri di atas kebiasaan kecil. Bahwa menjaga bumi tidak selalu butuh konferensi mewah, cukup kesadaran untuk membersihkan got dan menanam satu pohon.
Karena sejatinya, desa yang menjaga alam sedang menjaga dunia.
Dan seperti kata Pak Lurah Waguyo hari itu:
“Air tidak pernah salah jalan. Kitalah yang sering lupa memberi ruang.”
.png)


Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis
DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com