BANGSAHEBAT.COM - Sore itu balai desa tidak ramai oleh rapat, tapi oleh suara notifikasi. Bunyi “ting” dan “tit” bersahutan dari tangan-tangan kecil yang sibuk menggeser layar. Anak-anak desa duduk berjejer di teras balai, kepala menunduk, jari menari. Dunia ada di layar, sementara desa ada di sekeliling mereka—sunyi.
Pak Lurah Waguyo berdiri di dekat tiang bendera. Kaos berkerah warna pink, kupluk rajut ungu menutupi rambutnya. Kumis tebalnya tampak bergerak saat ia menarik napas panjang. Di sampingnya, Bu Ngatini berdiri dengan senyum keibuan, membawa teko air hangat. Sutini, ponakan Pak Lurah, duduk di anak tangga balai desa, sesekali melirik layar temannya, sesekali melirik Pak Lurah.
Angin sore membawa bau sawah dan suara jangkrik. Tapi perhatian anak-anak tak berpaling. Dari sinilah percakapan itu dimulai—tentang anak desa, teknologi, dan masa depan yang sedang dibentuk diam-diam.
DIALOG PAK LURAH WAGUYO
PAK LURAH WAGUYO
(pelan tapi tegas)
“Nduk, Le… kalian tahu nggak, dulu sore-sore begini balai desa penuh tawa. Sekarang penuh sinyal.”
SUTINI
(mengangkat kepala)
Pak Lurah, itu namanya zaman sudah maju. Guru bilang teknologi itu penting.
PAK LURAH WAGUYO
“Betul, Nduk. Teknologi itu alat. Tapi alat bisa jadi penolong, bisa juga jadi penguasa.”
WARGA 1
Pak Lurah, anak-anak sekarang memang beda. Dilarang main HP malah ngambek.
PAK LURAH WAGUYO
“Yang beda bukan anaknya, Le. Yang beda cara kita mendampingi.”
BU NGATINI
(lembut)
Di rumah, anak-anak sering makan sambil lihat layar. Kalau dipanggil, jawabnya ‘iya’ tapi matanya tetap ke HP.
PAK LURAH WAGUYO
“Nah, itu tanda bahaya yang sering kita anggap sepele.”
SUTINI
Bahaya gimana, Pak? Kan cuma lihat video.
PAK LURAH WAGUYO
“Nduk, kalau mata terus melihat layar, hati bisa lupa melihat sekitar.”
WARGA 2
Tapi Pak Lurah, sekarang pelajaran juga dari internet. Mau tidak mau anak harus pegang HP.
PAK LURAH WAGUYO
“Pegang, iya. Tapi jangan sampai dipegang balik sama HP.”
SUTINI
(bingung)
Maksudnya HP megang kita?
PAK LURAH WAGUYO
“Kalau kita tidak bisa lepas walau sebentar, berarti kita yang dipegang.”
BU NGATINI
Bapak sering bilang, anak itu meniru, bukan mendengar.
PAK LURAH WAGUYO
“Betul. Kalau orang tua sibuk dengan HP, jangan heran anaknya ikut sibuk dengan layar.”
WARGA 1
Pak Lurah, zaman kami kecil dulu, mainnya di sawah. Sekarang sawah kalah sama sinyal.
PAK LURAH WAGUYO
“Dan di situlah masalahnya. Anak kehilangan tanah tempat belajar hidup.”
SUTINI
Belajar hidup itu maksudnya apa, Pak?
PAK LURAH WAGUYO
“Belajar jatuh saat lari. Belajar sabar saat menunggu giliran. Belajar kalah tanpa marah. Itu tidak ada di layar.”
WARGA 3
Kalau terus begini, apa dampaknya Pak?
PAK LURAH WAGUYO
“Anak bisa pintar, tapi kurang peka. Cepat tahu, tapi lambat peduli.”
BU NGATINI
Kadang ibu-ibu bilang, anak sekarang cepat marah.
PAK LURAH WAGUYO
“Karena mereka terbiasa segalanya cepat. Padahal hidup tidak selalu cepat.”
SUTINI
Pak Lurah, apa ini cuma masalah desa kita?
PAK LURAH WAGUYO
(tersenyum tipis)
“Ini masalah dunia, Nduk. Anak-anak di kota besar juga mengalami hal yang sama.”
WARGA 2
Berarti desa kita tidak ketinggalan zaman?
PAK LURAH WAGUYO
“Desa kita justru sedang diuji. Apakah ikut hanyut, atau jadi penyeimbang.”
SUTINI
Penyeimbang gimana?
PAK LURAH WAGUYO
“Dengan mengajarkan bahwa hidup bukan cuma tentang layar, tapi tentang rasa.”
BU NGATINI
Rasa peduli, rasa hormat, rasa sabar…
PAK LURAH WAGUYO
“Iya. Itu yang tidak bisa diunduh.”
WARGA 1
Pak Lurah, kalau kita larang total HP, apa bisa?
PAK LURAH WAGUYO
“Melarang tanpa memberi contoh hanya bikin jarak. Yang kita butuhkan itu batas, bukan tembok.”
SUTINI
Batas itu seperti apa?
PAK LURAH WAGUYO
“Ada waktu layar, ada waktu bicara. Ada waktu online, ada waktu menyapa tetangga.”
WARGA 3
Kalau anak melawan?
PAK LURAH WAGUYO
“Dampingilah, bukan dimarahi. Anak itu bukan musuh, tapi titipan masa depan.”
BU NGATINI
Kadang capek, Pak. Orang tua juga manusia.
PAK LURAH WAGUYO
“Justru karena kita manusia, anak belajar jadi manusia.”
SUTINI
Pak Lurah, kalau anak desa kehilangan arah, apa dampaknya ke dunia?
PAK LURAH WAGUYO
“Dunia tidak runtuh oleh perang saja, Nduk. Dunia bisa runtuh oleh generasi yang tidak peduli.”
WARGA 2
Berarti pendidikan karakter penting?
PAK LURAH WAGUYO
“Sangat. Ilmu tanpa karakter itu pisau tanpa gagang.”
BU NGATINI
Melukai yang memegangnya.
PAK LURAH WAGUYO
“Betul.”
SUTINI
Pak Lurah, aku boleh main HP nggak?
PAK LURAH WAGUYO
(tertawa kecil)
“Boleh. Tapi jangan lupa main dengan manusia juga.”
WARGA 1
Pak Lurah, apa harapan Bapak?
PAK LURAH WAGUYO
“Anak desa boleh melek teknologi, tapi jangan sampai tidur nurani.”
(Anak-anak perlahan menurunkan HP. Beberapa mulai bercanda. Sore terasa sedikit lebih hidup.)
PAK LURAH WAGUYO
“Kalau desa bisa menjaga anak-anaknya, dunia punya harapan.”
Sore itu, layar-layar masih menyala, tapi tidak lagi sepenuhnya menguasai. Anak-anak mulai berlari kecil, sebagian duduk mendengarkan cerita Pak Lurah Waguyo. Tidak ada larangan keras, tidak ada amarah—hanya kesadaran yang ditanam pelan-pelan.
Dari desa kecil ini, Pak Lurah Waguyo mengingatkan dunia: bahwa teknologi bukan musuh, tapi tanpa karakter, ia bisa menggerus rasa kemanusiaan. Anak-anak adalah jembatan masa depan. Jika jembatan itu rapuh, dunia bisa kehilangan arah.
Suara desa memang sederhana. Tapi justru dari kesederhanaan itulah lahir pesan besar: masa depan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tapi oleh kepedulian.
Dan seperti kata Pak Lurah Waguyo sebelum pulang ke rumahnya:
“Kalau anak-anak hanya diajari menatap layar, jangan heran kalau suatu hari mereka lupa menatap sesama.”
.png)


Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis
DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com