TUroTUr5TpA6TUO7BSM0TfG0Ti==

Akibat Menghina Wanita Tua di Ujung Gang: Teror yang Mengikuti Sampai Kematian


BANGSAHEBAT.COM
 - Aku menerima cerita ini pada suatu malam hujan, lewat pesan suara yang dikirim seorang sahabat lama. Suaranya terdengar serak, terburu-buru, dan beberapa kali terputus oleh napas yang gemetar. Ia memintaku menuliskannya—bukan untuk mencari sensasi, katanya—melainkan agar orang lain belajar satu hal sederhana yang sering kita remehkan: jangan pernah menghina seseorang hanya karena ia tampak lemah, tua, dan tak berdaya.

Cerita ini terjadi di sebuah kota kecil yang nyaris tak pernah masuk berita. Kota dengan gang-gang sempit, rumah berdinding kusam, dan lampu jalan yang sering mati sebelum tengah malam. Di sanalah seorang pria bernama Raka memulai kesalahannya.

1. Wanita Tua di Ujung Gang

Raka dikenal sebagai pria yang mudah tertawa—tapi juga mudah meremehkan. Ia bekerja sebagai sopir travel antar kota, pulang larut malam, dan terbiasa melontarkan candaan kasar pada apa pun yang dianggapnya aneh.

Di ujung gang tempat ia tinggal, ada seorang wanita tua yang selalu duduk di kursi kayu reyot. Rambutnya putih kusut, kulitnya mengeriput seperti kertas tua yang dilipat berkali-kali. Matanya aneh—bukan buta, tapi terlalu hitam, seolah cahaya enggan tinggal di sana.

Tak ada yang tahu pasti siapa namanya. Warga hanya memanggilnya Mbah.

Setiap sore, wanita tua itu duduk menghadap jalan, menatap siapa pun yang lewat tanpa senyum, tanpa sapaan. Kadang ia bergumam sendiri, kadang tertawa pelan seperti sedang bercanda dengan sesuatu yang tak terlihat.

Raka membenci tatapan itu.

“Orang gila,” katanya suatu malam sambil tertawa keras, tepat ketika ia melintas dengan motor. “Duduk di situ cuma bikin orang sial.”

Beberapa tetangga menegurnya. Tapi Raka tak peduli.

Sejak malam itu, ia menjadikan wanita tua tersebut bahan olokan. Setiap lewat, selalu ada komentar:

“Belum mati juga, Mbah?”
“Cari kuburan aja sana!”
“Atau mau aku antar ke alam baka?”

Ia tertawa keras setiap selesai mengucapkannya.

Wanita tua itu tak pernah membalas. Ia hanya menoleh perlahan, menatap Raka lebih lama dari biasanya.

Dan itu, menurutku, adalah awal dari segalanya.

2. Senyum yang Terlambat Disadari

Suatu malam, hujan turun deras. Lampu gang mati. Raka pulang lebih awal karena mesin travelnya bermasalah.

Saat melewati ujung gang, ia melihat wanita tua itu masih duduk di kursinya—basah kuyup, tapi tak bergerak.

Raka berhenti.

“Gila, hujan begini masih aja duduk,” katanya sambil terkekeh. “Apa nunggu dijemput malaikat?”

Untuk pertama kalinya, wanita tua itu tersenyum.

Senyumnya aneh. Terlalu lebar. Terlalu lama. Giginya hitam dan tak lengkap. Bibirnya bergetar, seolah menahan sesuatu yang ingin keluar.

“Sudah siap?” tanya wanita tua itu pelan.

Raka merinding.

“Siap apaan, Mbah?” tanyanya, mencoba menertawakan rasa tak nyaman yang tiba-tiba muncul.

Wanita tua itu menunduk, lalu berbisik, hampir tak terdengar di antara suara hujan.

“Waktu.”

Raka menelan ludah, lalu pergi tanpa menoleh lagi. Sepanjang malam, ia sulit tidur. Kata itu terus terngiang di kepalanya.

Waktu.

3. Bau Tanah dan Tangisan

Malam-malam berikutnya, Raka mulai mengalami hal aneh.

Pertama, bau tanah basah muncul di kamarnya setiap pukul dua dini hari. Bau itu kuat, seperti kuburan yang baru digali. Ia bangun dengan dada sesak, napas pendek, dan keringat dingin membasahi punggungnya.

Kedua, ia sering mendengar tangisan perempuan tua dari arah ujung gang. Tangis itu lirih, putus-putus, seolah datang dari jauh—tapi terasa sangat dekat.

Setiap kali ia membuka jendela, suara itu berhenti.

Ketiga, ia mulai bermimpi.

Dalam mimpinya, ia berdiri di ujung gang. Wanita tua itu ada di sana, tapi kali ini berdiri. Tubuhnya lebih tinggi dari yang seharusnya. Rambut putihnya menjuntai hingga tanah. Di sekelilingnya, ada lubang-lubang gelap yang menganga, mengeluarkan uap dingin.

“Kamu suka bercanda,” kata wanita tua itu dalam mimpi. “Sekarang giliranku.”

Raka terbangun dengan jeritan.

Ia mulai ketakutan, tapi gengsinya terlalu besar untuk mengaku. Pada teman-temannya, ia tetap tertawa.

“Paling cuma halusinasi,” katanya. “Orang tua bau tanah aja bikin takut.”

Ia tak sadar, setiap kata hinaan itu seperti mengikatkan tali di lehernya sendiri.

4. Ujung Gang yang Berubah

Suatu sore, Raka pulang lebih cepat. Gang terlihat lebih sempit dari biasanya. Udara terasa berat, seperti menekan dada.

Wanita tua itu tak ada di kursinya.

Sebaliknya, di sana berdiri pohon tua yang tak pernah ada sebelumnya. Batangnya besar, akarnya mencuat ke permukaan tanah, seolah baru dipaksa keluar dari perut bumi.

Raka berhenti.

“Pohon apaan ini?” gumamnya.

Di batang pohon itu, tergantung kursi kayu reyot milik wanita tua tersebut. Kursi itu berayun pelan meski tak ada angin.

Raka merasakan dorongan aneh untuk mendekat.

Saat ia melangkah, tanah di bawah kakinya lembek, seperti kuburan basah. Sepatunya terbenam.

Ia mencoba menarik kaki, tapi tanah seperti menelan.

Dari balik pohon, terdengar suara tawa pelan.

“Kamu datang tepat waktu.”

Wanita tua itu muncul dari balik batang pohon. Kini wajahnya jauh lebih rusak. Kulitnya robek di beberapa bagian, memperlihatkan daging keabu-abuan. Matanya hitam pekat, tanpa putih sama sekali.

“Kamu suka melihatku duduk,” katanya. “Sekarang duduklah.”

Tanah di belakang Raka bergerak, membentuk cekungan seperti kursi. Bau busuk menusuk hidungnya.

Raka berteriak, tapi suaranya seperti ditelan udara.

5. Hukuman yang Dipilih Sendiri

Wanita tua itu mendekat. Setiap langkahnya meninggalkan jejak hitam di tanah.

“Kamu menertawakan umurku,” katanya. “Padahal umur adalah pinjaman.”

Ia mengangkat tangannya. Jari-jarinya panjang, kuku hitam dan retak.

“Kamu menghina tubuhku,” lanjutnya. “Padahal tubuh adalah wadah, bukan bahan ejekan.”

Raka menangis, memohon ampun.

“Aku cuma bercanda, Mbah… aku salah…”

Wanita tua itu tertawa. Kali ini, tawanya keras dan berlapis, seperti lebih dari satu suara.

“Bercanda?” katanya. “Kata-kata adalah doa. Kamu mengucapkannya berkali-kali.”

Tanah di sekitar Raka mulai menutup, perlahan naik hingga betisnya. Rasa dingin menjalar ke tulang.

“Kamu ingin aku mati,” bisik wanita tua itu. “Sekarang kamu akan belajar menunggu.”

Raka menjerit saat tanah menutup hingga pinggang, lalu dada.

“Waktu,” kata wanita tua itu sekali lagi.

Gelap.

6. Hilang Tanpa Jejak

Keesokan paginya, warga menemukan motor Raka tergeletak di ujung gang. Mesin masih hangat. Tapi Raka menghilang.

Polisi datang. Pencarian dilakukan. Tak ada tanda perkelahian. Tak ada darah.

Yang aneh, wanita tua itu juga menghilang. Kursi kayunya tak ditemukan. Seolah ia tak pernah ada.

Beberapa hari kemudian, pohon tua di ujung gang ditebang karena dianggap berbahaya. Saat akarnya dicabut, warga mencium bau busuk menyengat.

Di bawah akar pohon, mereka menemukan sebuah sepatu.

Sepatu Raka.

Di dalamnya, ada tanah basah dan… sesuatu yang mirip kuku manusia, panjang dan hitam.

Tak ada jasad. Tak ada penjelasan logis.

Kasus ditutup sebagai orang hilang.

7. Pesan yang Tertinggal

Beberapa minggu setelah kejadian itu, seorang anak kecil di gang tersebut berkata pada ibunya:

“Bu, kenapa Mbah sekarang duduk di bawah tanah?”

Ibunya menegur anak itu agar tak mengada-ada.

“Tadi malam aku lihat,” lanjut anak itu polos. “Mbah duduk sambil nunggu. Katanya ada yang belum selesai.”

Sejak saat itu, setiap malam tertentu, warga mencium bau tanah basah di ujung gang. Kadang terdengar suara kursi kayu berderit pelan.

Tak ada yang berani mengejek lagi.

Tak ada yang berani tertawa.

Aku menutup rekaman suara sahabatku dengan tangan gemetar. Ia mengakhiri ceritanya dengan satu kalimat yang terus terngiang di kepalaku:

“Beberapa orang tua bukan menunggu mati. Mereka menunggu orang yang pantas.”

Dan jika kamu membaca cerita ini sampai sini, aku harap kamu mengingat satu hal:
kata-kata adalah jejak.
Dan tidak semua jejak bisa dihapus—sebagian akan menuntun kita ke tempat yang tak pernah ingin kita datangi.

Aku, Laras, hanya menyampaikan.
Sisanya… biarlah waktu yang menjawab.

Pastikan Selalu Berkomentar Yang Baik, Tidak Menyinggung Ras, Suku, Agama dan Rasis

DAFTARKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI BANGSA HEBAT DENGAN MENDAFTAR ID BANGSA HEBAT, ADA UNDIAN BERHADIAH DAN JUGA UANG JUTAAN RUPIAH SETIAP BULANNYA. DAFTAR KLIK DISINI Dan Cek Aktivasi ID Kamu Setelahnya Disini Setelah Tergabung dan Memiliki ID BANGSA HEBAT id.bangsahebat.com

https://www.bangsahebat.com/search/label/FOKUS%20BANGSA
https://www.bangsahebat.com/p/press-release-gerakan-bangsahebatcom.html

Type above and press Enter to search.